JOGJA – Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi jika digunakan secara efektif dapat memberi manfaat, salah satunya di bidang pendidikan. Pemanfaatan teknologi ini yang terus diupayakan SMPN 2 Jogja untuk menunjang kegiatan belajar mengajar siswanya.

Melalui aktivitas International Conference for Junior High School Students 2019, siswa-siswi SMPN 2 Jogja mempraktikkan langsung pelajaran Bahasa Inggris. Yakni lewat diskusi jarak jauh menggunakan aplikasi Zoom. Diikuti empat negara, para siswa secara interaktif diajak untuk berani dan percaya diri berbahasa Inggris.

“Yang jelas tujuannya agar mereka bisa berkomunikasi, terutama dalam Bahasa Inggris,” ujar guru pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris Triani kepada Radar Jogja, Kamis(21/3). Berdasarkan pengamatannya, teleconference yang dilakukan untuk kali kedua itu memberi dampak positif yang luar biasa.

Guru yang akrab disapa Ani itu mengungkapkan, pada kenyataannya kemampuan berbahasa Inggris anak-anak Indonesia tak kalah dari negara lain. Selain mampu mengasah kemampuan berbahasa Inggris, teleconference itu juga melatih rasa percaya diri siswa. “Senang rasanya kalau melihat mereka aktif bertanya dan menjawab,” tutur Ani.

Jika pada teleconference sebelumnya siswa SMPN 2 Jogja hanya melakukan diskusi dengan siswa dari Jepang. Maka kini pesertanya bertambah. Yakni dari Taiwan yang diwakili Sinying Senior High School. Lalu dari Malaysia dipresentasikan oleh Batu Kawan Secondary School. Serta Jepang diwakili High School in Okinawa. Adapun tema diskusi yang dibahas pada teleconference tersebut yakni What Is an Adul? atau What Kind of an Adult Do You Want to Become?

Teleconference yang dimulai pukul 12.30 hingga 14.30 itu diikuti 32 murid yang duduk di kelas IX. Secara bergantian mereka memperkenalkan diri di hadapan kamera yang terhubung langsung ke aplikasi Zoom. Yakni aplikasi berbasis video yang digunakan untuk berkomunikasi. Para siswa pun dipersilakan untuk mengajukan pertanyaan kepada salah satu perwakilan negara. Serta menjawab pertanyaan dari lawan bicara. Semua dilakukan sepenuhnya menggunakan Bahasa Inggris.

Salah seorang murid kelas IX peserta teleconference Praka Ihramanantya mengungkapkan kegembiraannya. “Ini kali pertama saya ikut ini,” katanya semringah. Siswa yang akrab disapa Raka itu mengatakan, mulanya dia merasa grogi saat harus diminta berbicara dengan Bahasa Inggris.

Namun lambat laun hal itu menyenangkan baginya. Dia mengaku banyak manfaat yang bisa diperoleh melalui teleconference ini. Selain bisa melatih kemampuan Berbahasa Inggris, dia pun menjadi tahu bahasa dari negara-negara lain. “Ternyata setiap negara memiliki ciri khas masing-masing,” ungkapnya.

Rencananya, kegiatan seperti ini akan terus dilakukan di tahun-tahun yang akan datang. Kendati demikian, evaluasi terkait jaringan internet serta ketahanan listrik masih perlu dikaji kembali. (cr9/laz/mg2)