BISNIS perni k­pernik pernikahan merupakan bisnis yang cukup menggiurkan. Banyak pebisnis yang mulai melihat potensi besar ini.Mereka erlomba­lomba melakukan inovasi demi menggaet konsumen. Namun, ternyata tidak banyak yang benar­benar memenuhi hasrat kaum milenial.

Padahal, pasar besar justru di generasi ini. Banyak yang masih mempertahakan cara­cara lama dalam menggaet pasar. Muhammad Zia Ul­Haq merupakan satu di antara segelintir pengusaha bisnis pernik­pernik pernikahan yang bisa dibilang cukup berhasil menggaet kaum milenial. Dia mendirikan Ayoknikah, sebuah bisnis yang kini telah mencapai omset puluhan juta per bulan.

”Milenial menyukai hal­hal unik,” jelas Zia. Prinsip ini yang dipegang oleh mereka sehingga perlu selalu memutar otak tiap melempar produk ke pasar. Saat ini mereka telah memasarkan 300 lebih produk undangan dan souvenir untuk terus memenuhi hasrat para milenial tersebut.

Berbagai desain unik terus mereka hasil, seperti undangan yang dibuat seperti SIM. Kalau biasanya SIM singkatan dari surat izin mengemudi, kali ini surat izin menikah. Ada pula semacam plesetan buku passport. Berbagai gaya desain lain juga mereka pasarkan, misalnya vintage, gunungan wayang, modern, dan masih banyak lagi yang lain.

Namun, berbagai inovasi produk yang dilakukan akan percuma jika tidak memberikan layanan prima. Sebab, pernikahan merupakan sebuah acara sakral yang begitu penting oleh tiap pasangan. Maka dari itu, Zia berani memberi jaminan, jika pengiriman produk terlambat satu hari saja, uang kembali 100 persen dan produk tetap menjadi milik konsumen.

Selain itu, ada satu lagi yang menurutnya perlu diperhatikan dalam menjalankan bisnis layanan pernikahan, yakni mengelola modal. Banyak pengusaha dengan ide luar biasa, namun jika gagal mengelola uang, perusahaan dapat kolaps. ”Kami mengevaluasi keuangan secara berkala dan mendata setiap cost yang keluar. Sebisa mungkin melakukan efisiensi dalam operasional, dengan prinsip kaizen,” jelasnya.

Kaizen merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang berarti perbaikan yang berkesinambungan.

Dia juga memastikan tim dalam kondisi prima. Artinya mereka sadar dan paham benar dengan visi misi dan tujuan perusahaan, dengan membuat kultur perusahaan yang menyenangkan dan penuh tantangan. Tiap sumber daya yang ada terus dipahamkan akan visi perusahaan. Tentu saja merekrut sumber daya yang dapat sejalan dengan perusahaan menjadi salah satu kuncinya. (cr10/din/ong)