JOGJA – Warga binaan memiliki hak yang sama setelah bebas dari jeruji besi. Inilah yang dipegang teguh oleh Dr Aqua Dwipayana. Pakar komunikasi yang juga motivator nasional ini terus memberikan suntikan semangat kepada warga binaan Lapas Kelas IIA Jogjakarta dan Lapas Perempuan Wirogunan.

DWI AGUS, Jogja

Senin siang (25/3) seakan menjadi berkah bagi seorang David alias Dragon. Penghuni Lapas Kelas IIA Jogjakarta ini tak henti-hentinya mengucapkan syukur. Berkat keinginan dan niatnya berhijrah, terpidana kasus perampokan ini justru akan bisa berangkat umrah. Dia diberi hadiah umrah oleh Aqua sebebasnya dari Lapas Wirogunan.

David awalnya hanya ingin mengeluarkan uneg-unegnya selama hidup di balik jeruji sel. Lima kali menghuni lapas ternyata menggugah hati kecilnya. Dia merasa berdosa dan ingin memperbaiki diri di kehidupan yang akan datang.

“Alhamdulilah bisa berangkat umrah, insya Allah bebas 2021. Memang sudah ada keinginan hijrah. Keluar masuk penjara bukan kebanggaan saya. Setelah bebas, ingin menimba ilmu di pondok pesantren,” kata pria kelahiran 1981. Ia mengaku keluar masuk penjara karena semata-mata persoalan ekonomi.

David adalah salah satu contoh warga binaan yang mengaku sadar. Menghuni di balik dinginnya “hotel prodeo” tentu momentum untuk berbenah diri. Aqua Dwipayana menilai, semua manusia memiliki kesempatan yang sama dalam mengisi hidup.

Terpenjara bukanlah alasan orang itu untuk diasingkan. Justru usai terpenjara adalah masa untuk memulai lembaran baru. Di satu sisi kesempatan tentu harus diberikan secara adil. Bukan dengan pandangan sinis atau cacian dan makian.
“Warga binaan juga memiliki hak yang sama usai bebas dari lembaga ermasyarakatan. Hanya saja perlu ada pendekatan berupa resosialisasi,” jelas penulis buku best seller The Power of Silaturahim ini.

Bagi Aqua sendiri, memberikan hadiah umrah gratis kepada orang lain bukanlah hal aneh. Dari royalti bukunya itu, tahun 2017 ia memberangkatkan umrah gratis untuk 35 orang, kemudian 2018 ada 39 orang. Tahun ini, berangkat 4 April mendatang, 50 orang diumrahkan.

Bukan hal aneh bagi Aqua mengunjungi rutan dan lapas. Baginya lingkungan itu tak ubahnya sebuah rumah. Bertemu orang-orang baru dengan karakter yang berbeda. Berbincang lalu bertukar pikiran untuk membuka pola pandang akan kehidupan.

Ini pula yang dia tanamkan kepada para penghuni Lapas Wirogunan. Bagaimana harus terus melanjutkan hidup dengan prinsip bahagia. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga orang di sekelilingnya. Hingga akhirnya tercipta atmosfer yang menyenangkan.

“Apapun yang dijalani sebagai warga binaan paling mendasar dan memaknai adalah sebagai ibadah. Kondisi apapun saat ini, sebaiknya tetap bersyukur. Kalau menyesal itu alhamdulilah,” katanya.

Dia juga mengajarkan pola pandang orang berkendara. Saat berpacu di atas kendaraan, sudah selayaknya fokus akan pandangan ke depan. Melihat jauh ke depan dan menghadapi setiap rintangan yang ada.

Berbeda dengan spion yang berukuran kecil. Filosofinya spion adalah cerminan kehidupan di masa lalu. Ada masanya melihat tapi bukan berarti terpaku. Jika terlalu sering melihat spion maka kehidupan akan berjalan lambat dan tidak maju.

“Kaca depan mobil itu besar, ini adalah kehidupan yang harus dijalani dengan optimis. Boleh melihat spion tapi jangan terlalu sering. Fokus dari kehidupan adalah melihat kedepan bukan meratapi kehidupan masa lalu,” ceritanya.

Resosialisasi adalah wujud pendekatan oleh semua pihak. Keluarga menerima dengan tangan terbuka akan kepulangan seorang warga binaan. Begitu pula lingkungan, peran penting juga disandang orang-orang terdekat.

Tak jarang kembalinya masa kelam karena adanya skeptis dari lingkungan sekitar. Memandang mantan warga binaan lapas dengan jubah yang sama. Hingga tidak memberi kesempatan untuk menunjukan perubahan pasca masa pertobatan.

“Nah disatu sisi juga harus membekali diri dengan komunikasi yang baik. Bagaimana bersikap sesuai dengan tuntunan norma yang berlaku. Terpenting adalah menghadirkan semangat kebahagian kepada orang sekitarnya,” katanya,
Aqua mengajak agar setiap warga binaan mau belajar dari pengalaman.

Bersikap rendah hati dan menanamkan sikap empati. Bukan hanya sekadar ucapan semata namun juga sebuah tindakan postif. Inilah yang mampu mengubah cara pandang orang di sekelilingnya.

Di Lapas Perempuan Wirogunan di sela memberikan sharing komunikasi untuk 130 warga binaan (enam di antaranya warga negara asing), Aqua juga berbagi. Ia sempat memberikan uang tunai Rp 1 juta kepada Mary Jane Veloso, terpindana mati kasus heroin asal Filipina, setelah tampil membacakan puisi berjudul “Sepucuk Harapan”.

Selain itu, enam warga binaan yang maju menyanyi “Senandung Rindu” karya Dirjen PAS Sri Budi Utami, juga kebagian rezeki dari lulusan S3 Universitas Padjajaran Bandung ini. Masing-masing dapat uang tunai Rp 100 ribu. (laz/mg2)