JOGJA – Berawal dari ajakan rekan-rekannya, Wardiyono tertarik untuk bergabung dengan Go-Jek pada pertengahan 2016. Pria yang akrab disapa Gosong ini sebelumnya bekerja sebagai ahli reparasi televisi dan barang elektronik.

“Saya menggeluti usaha ini sejak tahun 1990 sampai 2016. Penghasilannya, ya cuma bergantung dari konsumen yang mau nyervis TV-nya,” ujar Wardi saat ditemui di base camp-nya, Selasa (26/3).

Dia menceritakan, setelah meninggalkan soldirnya dan memilih menjadi mitra Go-Jek, ia bisa menabung dan mencukupi kebutuhan keluarganya. Bahkan ia bisa melunasi motor yang masih dipakai hingga sekarang untuk narik pelanggan.

“Dulu tidak bisa nabung sama sekali. Cuma cukup buat hidup dan makanlah istilahnya. Sekarang Alhamdulillah sudah bisa nabung dan buka warung,” ungkapnya.

Bapak dua anak ini sekarang bisa membuka dua warung makan yang juga dijual di Go-Food, yaitu Ayam Geprek & Ayam Goreng KK dan Nasi Goreng CBR.

Modal untuk membuka warung itu didapatkan Wardi dari penghasilannya di Go-Jek. Kenapa ayam geprek dan ayam goreng yang ia pilih untuk dijadikan menu utama, menurutnya, jenis makanan itu banyak disukai masyarakat dibanding menu lain. Ayam gepreknya pun beda dengan ayam geprek pada umumnya yang dibalut tepung krispi.

“Ayamnya digoreng lalu ditambahkan kremesan di atasnya, baru digeprek. Saya jual ayam geprek Rp15 ribu per porsi sudah dengan nasi dan Rp 20 ribu per porsi untuk ayam gorengnya,” tuturnya.

Wardi mengungkapkan, saat ini ia bisa mendapatkan omzet Rp 6 juta – Rp 7 juta per bulan. Warung makannya terbilang laris orderan Go-Food, bisa mendapatkan omzet harian sekitar Rp 300 ribu-Rp 400 ribu.

Driver ke-1.684 ini mengaku adanya fasilitas Go-Food bisa memberikan tambahan penghasilan yang lebih menjanjikan dari pada hasil nariknya. Terlebih pada masa liburan, banyak wisatawan memesan ayam gepreknya. (*/ita/laz/mg2)