GUNUNGKIDUL – Gunungkidul memiliki keindahan alam luar biasa. Tak hanya jajaran pantai. Salah satunya Bukit Paralayang yang menjadi jujukan wisatawan.

GUNAWAN, Gunungkidul

Lokasinya nan jauh di sana. Di perbatasan Kabupaten Gunungkidul dengan Kabupaten Bantul. Tepatnya di Dusun Watugupit, Giricahyo, Purwosari, Gunungkidul. Akses jalan menuju wilayah yang berada di ujung selatan DIJ itu juga hanya ada dua. Yakni, Patuk-Dlingo-Panggang atau Jalan Parangtritis, Bantul.

”Kalian bilang saja mau ke Bukit Paralayang, supaya tidak kena retribusi masuk,” ucap seorang penjaga retribusi Bukit Paralayang memberikan kiat kepada wisatawan ketika melewati Jalan Parangtritis.

Sore itu, tidak sedikit wisatawan yang ingin menghabiskan waktu di Bukit Paralayang. Mereka mengantre di loket retribusi. Setelah melewati jalan curam menuju loket.

Ya, wisatawan harus menembus jalan kampung dari jalan raya. Meski berupa cor blok, banyak lubang di tengah jalan kampung tersebut.
Rintangan itu belum seberapa. Wisatawan harus lebih berhati-hati lagi. Terutama, saat perjalanan pulang. Lantaran sepanjang jalan kampung itu minim penerangan. Kalau pun ada penerangan, cahaya itu hanya berasal dari lampu rumah warga.

Namun, perjuangan ekstra sedikit terbayar begitu memasuki pintu pembayaran retribusi. Wisatawan langsung disuguhi pemandangan Pantai Parangtritis saat sore hari.

Menikmati sensasi keindahan saat sore hari di dataran tinggi, memang itu di antara yang ditawarkan Bukit Paralayang. Apalagi, Sabtu (23/3) petang itu, langit sedang cerah-cerahnya. Hawa dingin yang membungkus Bukit Paralayang pun tak menjadi masalah.

”Parkir roda dua Rp 3.000. Sedangkan retribusi Rp 5.000 per orang,” jelas Sutikno, salah satu pengelola Bukit Paralayang.
Untuk mencapai puncak, wisatawan harus naik lagi. Melewati seratusan anak tangga. Yang menarik, di antara anak tangga itu berada di antara tebing bebatuan.

Bagi phobia ketinggian, mendaki seratusan anak tangga cukup memacu adrenalin. Tapi tenang, ada pengaman di samping tangga.
Sebelum mencapai puncak, tersedia beberapa bangku. Semuanya menghadap ke laut. Di sini, juga terdapak kedai. Menunya berbagai menu makanan dan minuman.

Menurut Sutikno, Bukit Parayalang siang hari digunakan untuk olaharaga paralayang. Sore hingga petang dipenuhi dengan pemburu sunset.
”Paling ramai sampai sekitar pukul 18.30,” ujar Sutikno mengatakan disebut

Bukit Paralayang karena digunakan untuk olahraga dirgantara paralayang.
Belakangan, Bukit Paralayang menjadi destinasi favorit kalangan pemuda. Selain menikmati pemandangan laut selatan, tidak sedikit wisatawan yang didominasi pasangan remaja itu menikmati sunset.

”Banyak yang berswafoto. Tapi, saya datang sendirian,” kelakar Haryadi, seorang pengunjung. (zam/mg2)