GUNUNGKIDUL – Jumlah kasus stunting di Gunungkidul masih tinggi. Dinas terkait masih menangani ribuan balita yang mengalami stunting. Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Priyanta Madya Satmaka mengklaim, jumlah kasus stunting terus turun. Merujuk pada provinsi, stunting di Gunungkidul kebih kecil daripada Bantul dan Kulonprogo. “Kalau dilihat dari data memang terlihat besar. Ada ribuan balita stunting di Gunungkidul, itu data 2018,” kata Priyanta Madya Satmaka, Rabu (3/4).

Dia menjelaskan, dari 39 ribu balita yang diukur berat dan tinggi badan pada 2018, sekitar 4.000 anak (18 persen) membutuhkan asupan gizi. Karena pertumbuhan lambat. “Namun persentase tersebut lebih kecil di bawah angka nasional. Kami menempati urutan ketiga se-Provinsi DIJ,” ujar Priyanta.

Stunting di Gunungkidul jumlahnya lebih rendah daripada Bantul dan Kulonprogo. Persentase stunting di dua kabupaten itu masih tinggi. Dan menjadi perhatian Pusat. Melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) digelontor anggaran hingga Rp 500 juta tahun ini. “Anggaran itu (digulirkan) untuk penanganan gizi balita dan keperluan stunting yang lain,” ungkap Priyanta.

Stunting di Gunungkidul, lanjut Priyanta, pemicu balita kerdil beragam. Salah satunya, kekurangan asupan gizi. Atau istilah lainnya, gizi buruk akut. Beda dengan cebol, karena tinggi badan bermasalah pada tulang, akibat kekurangan zodium. Stunting terlihat saat bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kilogram. “Bayi lahir prematur dan ibu hamil anemia juga menjadi pemicu stunting,” ungkap Priyanta.

Direktur LSM Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Gunungkidul, Tri Wahyu Ariningsih berpendapat, pernikahan dini juga memicu stunting. “Terutama soal kesehatan, rentan kekurangan gizi, dan stunting. Karena sang ibu masih muda,” kata Wahyu. Menurut dia, pernikahan usia dini berimbas pada kekerasan dalam rumah tangga. Atau kekerasan seksual. Dari sisi psikologi belum matang.

Upaya sosialisasi pencegahan pernikahan dini tidak hanya ke anak. Tapi juga pemahaman terhadap orang tua terkait nikah muda. Namun tidak selamanya menjadi solusi. “Jadi, ada persamaan pemahaman terkait nikah muda antara orang tua dan anak. Karena keluarga adalah bagian penting dalam edukasi ke anak,” ujar Wahyu. (gun/iwa/zl/mg4)