JOGJA – Berdiri sejak 2004, Program Studi (Prodi) D1 Teknologi Transfusi Darah Politeknik Kesehatan Bhakti Setya Indonesia (Poltekkes BSI) Jogjakarta dibuka bersamaan dengan dua program studi lainnya. Yakni Prodi D3 Farmasi dan D3 Rekam Medik dan Informasi Kesehatan. Lalu pada awal 2016, Poltekkes BSI mulai membuka Prodi D3 Teknologi Transfusi Darah.

Minat yang cukup tinggi serta meningkatnya permintaan akan tenaga kerja di bidang transfusi darah, mendorong terciptanya Prodi D3 Teknolgi Transfusi Darah itu. Adanya peraturan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan dan RB) di mana tenaga kesehatan minimal lulusan D3, juga turut menuntut Poltekkes BSI untuk membuka prodi tersebut.

Pengembangan prodi baru itu pun tidak terlepas dari visi dan misi Poltekkes BSI. Di antaranya menjadi politeknik kesehatan yang unggul dan profesional dalam penyelenggaraan tri dharma perguruan tinggi. Serta menghasilkan tenaga profesional pelayanan kesehatan yang aman dan mandiri di masa depan.
“Tentu kami ingin menyelenggarakan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pelayanan kesehatan,” ujar Direktur Poltekkes BSI Jogjakarta Dra Yuli Puspito Rini MSi saat ditemui Radar Jogja belum lama ini.

Lebih lanjut Yuli menjelaskan, Poltekkes juga selalu mendorong pelaksanaan penelitian dalam rangka mengembangkan kebutuhan pelayanan kesehatan. Penelitian itu juga sesuai perkembangan zaman. Mahasiswa juga melakukan pengabdian masyarakat sesuai kebutuhan.

Terkait Teknologi Transfusi Darah, Yuli mengaku prodi itu menjadi salah satu keunggulan Poltekkes BSI Jogjakarta. Sebab masih jarang perguruan tinggi yang membuka program pendidikan serupa. Sehingga diyakini lulusan Poltekkes BSI punya peluang besar untuk terserap di dunia kerja.

“Bahkan sebelum lulus sudah banyak instansi kesehatan, baik di Jogjakarta maupun luar Jogjakarta, yang memesan lulusan Poltekkes BSI,” tutur Yuli bangga.

Dia menjelaskan, baik program D1 maupun D3 Teknologi Transfusi Darah telah terakreditasi B oleh LAMPTKes (Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan). Sedangkan Poltekkes BSI terakreditasi B oleh BAN PT.
Para lulusan pun diakui banyak dibutuhkan di seluruh wilayah Indonesia. Ada pula beberapa instansi kesehatan yang bahkan bersedia mengganti biaya kuliah dan biaya hidup, untuk peserta didik D1 Tranfusi Darah. Lalu setelah lulus para alumni itu diberi tempat di instansi yang bersangkutan.

Ada pun tenaga pengajar di Poltekkes BSI, 90 persen telah berpendidikan Strata 2 (S2). Sebagian sudah tersertifikasi dan ahli di bidangnya. Selain itu pendidikan juga didukung oleh praktisi-praktisi dari rumah sakit di sekitar DIJ.
Untuk Prodi D1 Teknologi Transfusi Darah, ilmu yang diajarkan, antara lain, tentang pelaksanaan selesi donor. Lalu cara pengambilan darah, pengamanan darah, pengolahan darah, hingga penyimpanan darah. Mahasiswa juga diajarkan untuk melakukan pendistribusian darah secara aman kepada pasien.
Sedangkan untuk Prodi D3 Teknologi Transfusi Darah hampir serupa dengan yang diajarkan pada program D1. Adapun kompetensi keahlian lainnya yakni mampu melakukan manajemen pengelolaan bank darah. Serta melakukan quality control terhadap sediaan darah.

Untuk menghadapi persaingan antarperguruan tinggi, Poltekkes BSI Jogjakarta senantiasa meningkatkan kualitas SDM (sumber daya manusia), terutama para dosen. Misalnya dengan studi lanjut, sertifikasi dosen, hingga mengirimkan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan kompetensi masing-masing.
Tak hanya itu, aktivitas studi banding ke perguruan tinggi lainnya juga kerap diadakan untuk meningkatkan wawasan. Kerja sama atau MoU juga terus dikembangkan. Baik dalam bentuk PKL (praktik kerja lapangan) dengan merangkul instansi kesehatan. Seperti rumah sakit, puskesmas, apotek, industri obat, Unit Transfusi Darah PMI. Hingga kerja sama dengan instansi pendidikan di luar negeri.

Sementara itu, berdasarkan Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PD Dikti), Poltekkes BSI telah meluluskan sekitar 2.000 alumni dari tiga prodi hingga September 2018. Para lulusan pun terserap di dunia kerja dengan masa tunggu antara 3-5 bulan. Yuli berharap kelak berbagai keunggulan yang ada bisa terus dipertahankan. (cr9/laz/fj)