JOGJA – Gerakan Jogja Garuk Sampah ikut menjaga kebersihan Kota Jogja. Terbentuk sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah.

ROTUN INAYAH, Jogja

Kerja bakti sosial tak lagi identik dengan ’bapak-bapak’. Kalangan remaja di Kota Jogja belakangan aktif berpartisipasi. Bahkan, mereka yang berstatus pelajar dan mahasiswa justru merasa malu jika tak terlibat.

”Kebanyakan anak muda ikut kegiatan sosial ini justru karena gengsi,” tutur Bekti Maulana menyebut anggota Komunitas Jogja Garuk Sampah (JGS) berasal dari berbagai kalangan.

Ya, komunitas yang berdiri pada Januari 2015 ini ikut aktif mengawal kebersihan Kota Jogja. Saban Rabu malam, mereka berkeliling Kota Jogja sembari memungut sampah yang masih tercecer. Mulai sampah plastik, kertas, rumput, hingga sampah visual.

Awalnya, kata Bekti, aksi bersih-bersih itu hanya diikuti komunitas sepeda. Mereka merasa tidak nyaman dengan banyaknya sampah yang masih tercecer di jalanan.

”Kemudian muncul ide untuk mendirikan komunitas Jogja Garuk Sampah,” tutur pria yang dipercaya sebagai koordinator JGS ini, Rabu(3/4).
Di usianya yang telah menginjak tiga tahun, anggota komunitas terus bertambah. Tidak hanya terbatas anggota komunitas sepeda. Paguyuban, pelajar, mahasiswa, hingga akademisi ikut aktif terlibat membersihkan sampah.
Menurut Bekti, fenomena itu karena ada perubahan tren di kalangan remaja.

Dalam bahasa mereka, tidak gaul jika tak ikut kerja bakti.
”Sehingga kami tak kesulitan untuk mengajak anak muda,” ujarnya.
Meski berangkat dari keprihatinan, pembentukan JGS juga sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah. Berbagai jenis sampah yang masih tercecer itu, antara lain, akibat minimnya fasilitas. Terutama di pusat wisata.

”Kami juga ingin wisatawan sepulang dari Jogja bercerita bahwa di Jogja ada anak-anak muda yang peduli dengan kebersihan kotanya,” kata Bekti berharap wisatawan berpikir dua kali jika membuang sampah sembarangan setelah melihat aktivitas JGS.

Ya, gerakan yang digagas JGS ini memang bersifat volunter massa. Waktu dan sasaran gerakan bersih-bersih dipersiapkan JGS. Yang terlibat tinggal datang dan mengeksekusi. Mereka juga membawa peralatan sendiri. Dari itu, Bekti menekankan, gerakan ini juga berfungsi untuk menghidupkan kembali kearifan lokal di Jogjakarta: gotong royong.

”Melalui anak muda ini, kami ingin mengajak mereka ke masa lalu, memperkenalkan budaya kerja bakti yang sekarang ini sudah jarang ditemui,” ungkapnya.

Biasanya, kata Bekti, sampah-sampah yang berhasil dikumpulkan dipilah menjadi tiga kategori. Yakni, organik, anorganik, dan bernilai rupiah. Sampah organik dan anorganik yang telah dipilah dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Piyungan.

”Yang bernilai rupiah seperti botol bekas kami sedekahkan ke pemulung,” tuturnya. (zam/mg2)