SLEMAN – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) serius untuk mengupayakan terwujudnya Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA). Targetnya, pada 2021 Sleman sudah menyandang status KLA.

Saat ini, Sleman masih ada di tingkat Nindya. Masih ada dua tingkat lagi menuju KLA. Bantuan dari berbagai pihak masih diperlukan.
Mewujudkan KLA, pemkab menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM). Yakni Yayasan Satu Nama, Lembaga Studi Pengembangan Perempuan dan Anak (LSPPA), dan Sekretariat Anak Merdeka Indonesia (SAMIN).

Kepala DP3AP2KB Sleman, Mafilindati Nuraini menjelaskan, kerjasama ini sebagai landasan pelaksanaan kegiatan. Di dalamnya ada program perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak.

“Ini sebagai langkah percepatan pencapaian pengembangan KLA,” kata Mafilinda (3/4).

Ada 24 poin utama dalam perjanjian itu. Di antaranya, sosialisasi Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA), Undang-Undang Sistem Peradilan Anak, dan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Ada pula Pencegahan Pornografi, Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), Pembentukan Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), dan Evaluasi Desa dan Sekolah Ramah Anak.

Kerjasama ini penting. Karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri mewujudkan KLA. Menjadi tanggung jawab bersama. “Juga menjadi sinergi seluruh stakeholder. Termasuk lembaga masyarakat,” kata Mafilinda.
Dikatakan, saat ini sekolah layak anak SD-SMP di Sleman sebanyak 50 persen dari total sekolah yang dikelola Pemkab Sleman. Selain itu, untuk desa, saat ini masih di angka 70 persen.

“Jadi untuk 2019 kami targetkan 100 persen desa di Sleman sudah layak anak,” kata Mafilinda.

Perwakilan Yayasan Satu Nama, Odi Shalahuddin menuturkan, langkah ini positif. Menunjukkan komitmen kuat pemenuhan hak anak. Seperti PATBM, pembentukan Satgas PPA, dan upaya mengembangkan kapasitas forum anak. Baik di tingkat desa hingga kabupaten.

“Saya berharap menghasilkan inovasi untuk mengefektifkan perlindungan anak. Dengan melibatkan masyarakat, anak, dan organisasi masyarakat,” kata Odi. (har/iwa/mg3)