SLEMAN – Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman optimistis sanggup menghasilkan 273 ribu ton beras. Pertimbangannya, lahan sawah baku masih cukup luas. Yakni, 18.173 hektare. Itu ditambah dengan mayoritas petani di sentra pertanian menanam padi minimal 2,5 kali setahun.

”Dukungan cuaca yang baik target itu pada 2019 bisa tercapai,” jelas Kabid Tanaman Pangan DP3 Sleman Rofiq Andriyanto saat dihubungi, Rabu(3/4).
Rofiq mengklaim target itu cukup realistis. Hitung-hitungannya, ada 45.500 hektare lahan yang ditanami padi dalam setahun. Angka itu dengan asumsi petani menanam padi 2,5 hingga tiga kali setahun.

”Per hektare menghasilkan 6 ton hingga 9 ton,” sebutnya.
Kendati begitu, Rofiq tak menampik target itu bisa meleset. Lantaran tidak semua daerah di Sleman didukung dengan kondisi air yang cukup. Belum lagi dampak El Nino.

”Kalau sudah ada El Nino, kami imbau untuk beralih ke tanaman yang tidak membutuhkan banyak air,” bebernya.
Selain cuaca, Rofiq menyebut alih fungsi lahan juga bisa membuat target meleset. Apalagi, alih fungsi lahan di Sleman cukup tinggi. Per tahun bisa mencapai 100 hektare.

Menurutnya, penanganan pascapanen juga penting. Pengeringan gabah, contohnya. Mayoritas petani masih menerapkan cara manual. Pola ini rentan terganggu dengan kondisi cuaca yang tak menentu.

Karena itu, DP3 berupaya mengantisipasinya dengan menyalurkan bantuan alat pengering. Harapannya untuk mendorong serapan beras di pasar.
”Sleman bagian timur dan tengah masing-masing dapat satu alat. Target ke depan Sleman barat yang dapat bantuan,” ungkapnya.

Di antara yang mendapatkan bantuan mesin pengering adalah Gabungan Kelompok Tani Agro Jogotirto, Berbah. Ketua Gapoktan Agro Jogotirto Maryadi mengatakan, mesin pengering sangat membantu proses pengolahan padi pascapanen.

”Di Jogotirto ada 316 hektare lahan pertanian. Per hektare menghasilkan 9,3 ton,” sebutnya. (har/zam/mg2)