GUNUNGKIDUL – Setiap tahun Gunungkidul menjadi langganan longsor. Berdasarkan pemetaan, wilayah perbatasan sering terdampak longsor ketika musim penghujan datang. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, tanah longsor dipengaruhi dua faktor. Yakni alam dan manusia. “Dari hasil pemetaan kami, lokasi rawan longsor kebanyakan di perbatasan. Baik utara maupun barat. Yang memiliki kondisi geografis curam,” kata Edy, Rabu (3/4).

Dijelaskan, wilayah perbatasan rawan longsor meliputi Kecamatan Gedangsari, Purwosari, Ngawen, Ponjong, dan Nglipar. Hal tersebut lantaran kemiringan lereng dan tekstur tanah menyebabkan daerah tersebut mudah longsor.
“Selain faktor alam, perilaku manusia juga menyumbang terjadinya tanah longsor. Seperti mengubah fungsi lahan. Awalnya ada pohon-pohon besar dengan tipe keras. Lalu ditebang. Diganti tanaman lain. Sehingga saat hujan turun, tidak ada penahan air,” ujar Edy.

Selain perubahan fungsi lahan, banyak masyarakat ceroboh mendirikan bangunan. Seperti mengeruk tebing dekat rumah. Sehingga permukiman rawan terkena longsoran tanah dan menjadikan talud atau fondasi tidak standar.
“Kami berusaha memasang early warning system (EWS) di wilayah rawan longsor. Selain itu, dibentuk Desa Tanggap Bencana (Destana). Agar dapat mengurangi risiko fatalitas jika terjadi bencana. EWS tersebar di 30 lokasi. Sedangkan Destana ada di 63 desa,” kata Edy. Bupati Gunungkidul, Badingah mengimbau masyarakat waspada jika hujan turun dengan intensitas tinggi dan ekstrem. “Waspada jika ada tanah longsor. Terutama warga di kawasan berisiko longsor,” kata Badingah. (gun/iwa/zl/mg4)