BANTUL– Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIJ kembali menggelar bedah buku. Bedah buku ke-37 ini diselenggarakan di Paduresan, Imogiri, Imogiri, Kamis (4/4). Temanya berternak itik tanpa bau dan tanpa angon.

Kepala Seksi Pengembangan Minat dan Budaya Baca DPAD DIJ Aris Wiryanto mengungkapkan kegiatan tersebut menjadi salah satu target menumbuhkan dan mengembangkan minat baca masyarakat. Tak hanya menambah wawasan. Tetapi dapat menumbuhkan langkah dan menjadi modal masyarakat dalam menciptakan peluang usaha. ”Lewat membaca, ilmu makin bertambah untuk menuju kesuksesan,” terangnya.

Bedah buku menjadi program rutin untuk mengajak masyarakat agar gemar membaca dan mengunjungi perpustakaan. Setelah budaya membaca terwujud, maka dapat mengembangkan ilmu tersebut. Manfaat membaca bagus untuk sistem kerja otak. Membaca dapat berdampak pada kemampuan berfikir, wawasan bertambah, mengasah kemampuan menulis dan meningkatkan konsentrasi. Untuk kesehatan mampu mencegah gangguan pada otak. Merangsang sel-sel otak untuk tumbuh.

Buku Beternak Itik Tanpa Bau dan Angon ini ditulis Norbertus Kaleka. Menurut Norbertus, berternak menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang tidak memiliki lahan pertanian. Berternak unggas juga dapat menjadi upaya penyediaan pasokan daging maupun kebutuhan telur. Agar tidak menimbulkan bau, dia membagikan tips. Yakni, memastikan tempat ternak selalu kering.  ”Ada dua hal yang harus dilakukan. Dari sisi pola makan maupun keberhasilan kandang,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, berternak itik tidak harus di lahan yang luas. Tapi bisa di pekarangan sempit. Dari sisi pola makan, makanan itik dianjurkan makanan nasi aking yang telah dikeringkan ataupun dedak. Dia menyarankan agar tidak memberikan konsumsi sentrat itik. Sebab kandungan protein tinggi tidak sepenuhnya tercerna baik di perut itik.

Kalau makanan itik mengandung protein tinggi, menyebabkan kotoran itik susah mengering dan timbulkan bau. Tapi kalau makanan dedak atau nasi aking kering, kotorannya akan mudah kering dan tak berbau.

Tempat ternak harus terbebas dari air. Kandang harus selalu kering. Tentunya juga diimbangi dengan rajin membersihkan kandang. Nah, kalau sudah dikandangkan tak perlu diangon. Itik tetap mau bertelur.

“Nah, berhubung disini deket Kali Celeng, sesekali di angon juga nggak apa-apa asalkan kandang tetap kering, pasti tidak berbau,” tuturnya.  Dia menyarankan, jenis itik yang cocok untuk wilayah tersebut itik metaram atau dikenal sebutan Itik Bantul.

Anggota DPRD DIJ Komisi D Tustiyani berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sumber inspiratif. Selain itu meningkatkan minat baca sekaligus menangkap peluang bisnis untuk meningkatkan perekonomian wilayah setempat. (cr6/din/mg1)