MAGELANG – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono hadir di Kota Magelang, Kamis(4/4). Kehadiran Basuki khusus untuk orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-5 Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Orasinya bertema “Pembangunan Infrastruktur dalam Meningkatkan Daya Saing di Bidang Investasi”.

Sebelum berorasi Basuki mengaku sempat grogi. Bukan lantaran tak siap materi orasinya. Tetapi karena dia melihat sebuah drum warna merah di sisi timur panggung tempat orasi. “Maaf, agak grogi. Liat alat musik di sana,” kata Basuki sembari tersenyum.

Dalam orasinya Basuki lebih banyak mengupas tentang jalan tol. Dia mengaku tidak sedang dalam sikap bertahan menghadapi “serangan” masyarakat soal pembangunan tol. Terutama dari sisi tarif dan kendaraan yang melintasinya.
Dia lantas mencontohkan awal mula pembangunan Tol Jagorawi. Kegika itu hanya segelintir kendaraan yang mau masuk tol. “Karena saat itu ada dalih, lewat jalan kok bayar. Tetapi sekarang, sudah ramai,” katanya.

Usai berorasi Basuki melepaskan jasnya. Kemudian berjalan menuju alat musik di pojokan. Sontak para hadir bertepuk tangan. Tanpa banyak bicara, Basuki langsung menggebuk drum mengiringi lagu pertama, Andaikan Kau Datang Kembali yang dipopulerkan oleh Koes Plus.

Penampilannya dibantu Pembantu Dekan (PD) II FKIP Untidar Hari Wahyono pada saxophone dan vokal, Arnold (bas), Antoni (gitar ), serta Ginanjar (keyboard +vokal).

“Main drum memang klangenan saya. Istilahnya obat capek saya setelah kerja,” ungkap Basuki.

Usai main drum menteri asal Surakarta itu diajak ke jembatan gantung di Kampung Ngembik, Kramat oleh Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito dan Wakil Ketua Komisi V DPR RI Nusyirwan Soejono.

Jembatan Ngembik menghubungkan Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang dengan Desa Rejosari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.

“Kenapa di daerah perkotaan seperti ini masih ada jembatan gantung ini? Pasti akan saya bangunkan jembatan (permanen),” ujar Basuki saat meninjau jembatan di atas Sungai Progo itu.

Jembatan itu dibangun secara swadaya oleh warga setempat. Hanya menggunakan rangkaian bambu dan tali pancang besi. Panjang jembatan sekitar 100 meter dan lebar 1,5 meter. Jembatan itu menjadi akses utama warga Kramat Utara maupun Rejosari. Baik siswa sekolah maupun para pekerja.
“Saya ganti tahun ini. Semua sudah ada, tanah sudah siap, sudah ada eksistingnya. Jadi tinggal ganti,” tegasnya.

Menurutnya, anggaran pembangunan jembatan gantung tersebut sudah masuk dalam rencana kerja Kemen PUPR 2019 sebesar Rp 8 miliar. Konsep pembangunannya tetap menggunakan jalur yang sama. Konstruksinya diperkuat, sehingga layak dilewati sepeda motor dan pejalan kaki.

Sementara itu, Sigit Widyonindito mengaku telah lama mengajukan permohonan perbaikan jembatan itu kepada pemerintah pusat. Sebab, jembatan tersebut merupakan sarana penting mobilitas masyarakat dua wilayah. “Kalau pagi seperti apa itu, mau papasan saja sulit. Saya pernah mau lewat takut, hampir merangkak,” ungkapnya.

Anisa Isnaini Syafa, 8, siswa SDN Kramat II Kota Magelang mengaku senang jika jembatan gantung segera dibangun. Hampir setiap hari dia dan teman-temannya melintasi jembatan tersebut saat hendak pergi dan pulang sekolah. “Setiap hari lewat sini, jalan kaki sama teman-teman. Kalau mau dibangun jadi lebih bagus kami senang, jadi enggak takut lagi,” ucap warga Madusari, Bandongan, itu (dem/yog/mg2)