KULONPROGO – Penyakit Tuberculosis (TB) masih banyak diidap masyarakat. Pengetahuan tentang pencegahan TBC harus terus menerus dilakukan.
Pondok pesantren (ponpes), panti asuhan dan rutan di Kulonprogo rentan terjadi penularan TB. Pondok pesantren, asrama maupun panti asuhan merupakan tempat belajar, tempat tinggal, dan tempat berinteraksi penghuni secara bersama-sama setiap hari.

Asisten Administrasi Umum Sekda Kulonprogo, Djulistyo mengatakan, masyarakat harus tahu bagaimana mencegah TB dan penanggulangannya.
TB sangat mudah menular. “Misalnya, meludah sembarang tempat menjadi pemicu utama TB,” kata Djulistyo.

Dia mengatakan hal tersebut saat digelar sarasehan tentang TB oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo. ‘’Sudah saatnya Kulonprogo bebas TB,’’ kata Djulistyo di Aula Adikarto, Kamis (4/4).

Sarasehan diikuti pengelola pondok, asrama, panti asuhan, dan rutan di Kulonprogo. Acara tersebut memeringati Hari Tuberculosis Sedunia 2019 yang diperingati setiap 24 Maret.

TB juga bisa berkembang jika lingkungan tidak sehat. Ventilasi rumah buruk. Ukuran rumah tidak seimbang dengan jumlah penghuni.

Menurut Djulistyo, para pengelola pondok pesantren, pengelola panti asuhan dan pengelola asrama harus berperan mencegah TB. “Mereka harus paham tentang TB,” ujar Djulistyo.

Hadir dalam sarasehan, Kabid Pelayanan Kesehatan, Dinkes Kulonprogo, Ananta Kogam Dwi Korawan; dokter RSUD Wates, Poliklinik Penyakit Dalam dr Zumrati Ahmad; dan wakil dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr Sardjito Jogjakarta dr Rina Triasih.
Ananta mengatakan, kegiatan lain berupa gerakan ketuk pintu. Dengan sasaran

63 penderita TB dan 378 rumah di sekitar penderita TB di 21 Puskesmas pada Maret 2019.

“Semua pengelola diajak berkomitmen menuju Kulonprogo bebas TB. Meningkatkan kualitas kesehatan, peningkatan gizi dan kesehatan reproduksi untuk anak-anak asuhannya dengan meningkatkan kesehatan lingkungan masing-masing,” ujar Ananta. (tom/iwa/rg/mg2)