PURWOREJO – Masyarakat Tengahan, Kaliharjo, Kaligesing, Purworejo kembali menggelar tradisi Rejeban, Rabu (3/4) . Mereka mengusung jolen yang berisi makanan. Tanpa paksakan, warga menyediakan beraneka makanan.
Tradisi turun- temurun ini diperingati setiap Bulan Rajab dalam penanggalan Islam. Ada warga yang berpetugas membawa tempat kotak untuk menampung makanan-makanan tersebut. Mereka mendatangi setiap rumah yang turut serta memeriahkan. Biasanya rute yang ditempuh disesuaikan dengan jalan menuju ke pusat kegiatan.”Memang sekarang pesertanya tidak sebanyak dulu,’’ kata Sekretaris Desa Kaliharjo, Dwi Cahyadi.

Zaman dahulu, nyaris setiap rumah membuat aneka makanan untuk momen tersebut. Namun sekarang, banyak berkurang. Alasannya ada yang sudah memilih tinggal di luar kota ataupun kesibukan.”Meskipun begitu, kami berusaha menjaga tradisi ini dengan harapan tradisi ini tidak punah,” kata Dwi.

Tardisi ini memiliki kemiripan dengan Jolenan di Somongari. Dwi Cahyadi menjelaskan memang kegiatannya pun nyaris sama. Hanya saja, pelaksanaannya berbeda. Sebab, Jolenan Somongari dilakukan pada Bulan Sapar.”Kami pelaksanaannya lebih untuk warga setempat karena ini menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah. Sekaligus peringatan Isra Mikraj,” imbuh Cahyadi.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Agung Pranoto mengungkapkan tradisi Rejeban yang dilakukan di Kaliharjo Kaligesing, mirip dengan kegiatan merti desa. Intinya sama sebagai bentuk rasa syukur warga.

Agung mengakui memang banyak tradisi yang berkembang di masyarakat. Karena itu pihaknya berkeinginan mendokumentasikan tradisi-tardisi yang berkembang di masyarakat. “Cukup beragam dan sebenarnya tidak sama prosesinya meski tujuannya sama,” tambah Agung.(udi/din/mg4)