KULONPROGO – Puluhan ibu-ibu buruh gendong Kulonprogo mendatangi Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo Jumat(5/4). Mereka tergabung dalam Yayasan Annisa Swasti.

Hasto Wardoyo (RADAR JOGJA FILE)

Mereka hadir dalam forum rutin Kamisan di Rumah Dinas Bupati Kulonprogo. Para buruh gendong tersebut selama ini mengadu nasib di sejumlah pasar di Jogjakarta, mereka ingin berperan di desanya masing-masing.

Salah seorang buruh gendong, Sariroh mengatakan, mereka mengadu nasib di Kota Jogja. Menjual jasa sebagai buruh gendong di Beringharjo, Gamping, Giwangan dan Kranggan.

Pekerjaan yang mereka lakukan berat. Harus menggendong barang yang beratnya bisa mencapai 100 kilogram. Upahnya hanya Rp 5.000 sekali angkut.
“Kami ingin memperjuangkan hak. Ingin bisa lebih maju dan sejahtera di desa kami. Kami ingin aktif memajukan daerah, termasuk mudah mengakses jaminan kesehatan,” kata Sariroh.

Namun, apa yang diminta oleh para buruh gendong tersebut tidak dijawab dengan tegas oleh bupati. Orang nomor satu di Kulonprogo tersebut justru tidak menjawab tuntutan buruh gendong.

Hasto justru mengatakan, bekerja di bidang jasa memang butuh perjuangan, kuncinya adalah sehat. Kesehatan paling penting dan berharga, untuk siapa saja.

“Para buruh gendong harus bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan. Berkumpul dalam sebuah paguyuban sudah baik,’’ kata Hasto.

Lebih baik lagi dengan membentuk koperasi. ‘’Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan terkait jaminan kesehatan, akseslah sesuai prosedur yang telah ditetapkan,” kata Hasto. (tom/iwa/mg3)