JOGJA – Dia terlahir normal. Musibah 15 tahun lalu mengubah semuanya. Kecelakaan membuatnya kehilangan sebagian kaki kiri. Siapa sangka musibah itu justru berubah menjadi berkah. Kondisi itulah yang membawa Kuntro Aji, 36, sukses menjadi atlet panahan paralimpik.

AHMAD SYARIFUDIN, Jogja

Cara berdirinya memang tak sekokoh dulu. Kuntro Aji memakai kaki prostetik. Untuk menopang tubuhnya. Meski tak sempurna, kaki prostetik setidaknya mampu menyangga tubuh pria 36 tahun itu dalam setiap laga. Kecakapannya memainkan busur dan anak panah tak diragukan lagi.

Seperti saat warga Hargomulyo, Kokap, Kulonprogo, itu berlatih di Lapangan Kopertis Jogjakarta belum lama ini.

Kaki prostetiknya mampu membentuk kuda-kuda dengan sempurna. Sangat mendukung pergerakan tubuh Aji saat membidik sasaran. Kepercayaan dirinya sangat tinggi.

Radar Jogja sempat menyambanginya di sela latihan. Ramah dan supel. Itulah kepribadian Aji.

Saat rehat dia bercerita awal mula berkiprah di dunai paralimpik. “Semua itu berkat Pak Sriyono. Orangnya baik banget,” tuturnya. Sosok yang dia maksud adalah pelatih panahan atlet Kota Jogja.

Sriyonolah yang mengenalkan Aji pada dunia panahan. “Yang penting ada kemauan. Alat disediakan,” sambungnya.

Aji memang bukan siapa-siapa kala itu. Dia hanyalah penonton yang tertarik dengan dunia panahan. Kesempatan itu datang ketika Sriyono meminjaminya seperangkat alat panahan. Bahkan Aji diizinkan membawa pulang seperangkat alat panahan itu. Untuk menempa diri sendiri. Juga karena saat itu tempat latihan selalu berpindah. Sehingga setiap atlet harus membawa sendiri-sendiri peralatannya.

“Awalnya saya pakai standard bow. Tidak sampai tiga bulan ganti Recurve. Dipinjami alat milik Perpani Kulonprogo,” kenangnya.

Ketekunan dan keteguhan tekad menjadikan Kuntro Aji seperti sekarang. Sebagai atlet andalan DIJ. Itu bermula pada 2016. Saat dia berlaga di Pekan Paralimpik Nasional (Perpanas) XV di Bandung, Jawa Barat. Setahun Aji berlatih keras untuk menyambut laga akbar itu. Hasilnya, sangat memuaskan. Aji mendulang dua emas.

Prestasi lain yang dia torehkan adalah medali perak di Bogor Open. Serta dua emas di Pekan Paralimpik Daerah (Peparda).

Prestasi berbanding lurus dengan pundi-pundi rupiah. Namun, Aji tak mau terlena dengan berbagai hadiah dan bonus yang dia terima.
Uang yang dia peroleh justru dijadikan modal usaha. Untuk jenis usahanya dia pilih beternak burung puyuh petelur. “Kalau nggak jadi atlet tak mungkin punya modal usaha,” selorohnya.

Sebagaimana menjadi atlet, Aji pun sangat tekun dan telaten mengembangkan usahanya. Tak pelak, usahanya berkembang pesat. Kini dia mampu memproduksi sedikitnya 75 ribu butir telur puyuh per bulan. Atau seberat sekitar 840 kilogram. Hasil dari usaha itulah yang dia pakai untuk menghidupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Sukses sebagai atlet dan pengusaha tak lantas membuat Aji merasa jumawa. Dia justru mengajak para penyandang disabilitas untuk mengikuti jejaknya. Menjadi atlet paralimpik. Di cabang apa pun. Sesuai bakat dan minat masing-masing. Aji meyakini, peluang menjadi atlet paralimpik sangatlah lebar. Dan itu bisa menjadi penopang hidup bagi penyandang disabilitas. “Yang penting mau, serius, dan punya tekad kuat,” tegasnya.(yog/mg2)