SLEMAN – Aksi vandal masih terjadi di Sleman. Salah satu contoh, banyak terdapat coretan di flyover Jombor. Bahkan di dinding rumah-rumah warga sering menjadi lokasi aksi coret-coret itu.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mengkaji kebijakan terkait vandalisme. Kepala Bagian Kesra Setda Sleman, Iriansya mengatakan, vandalisme berbeda dengan grafiti atau mural.

Vandalisme merupakan tindakan kriminal di kalangan remaja. Bahkan banyak di antara pelakunya adalah pelajar.

“Vandalisme adalah tindakan atau perilaku yang dilakukan remaja seperti merusak lingkungan. Baik lingkungan pribadi ataupun umum. Akibatnya, merusak keindahan dan kelestarian alam,” kata Iriansya (5/4).

Melihat urgensi adanya aturan tentang vandalisme, pihaknya akan memfasiltiasi kajian kebijakan vandalisme dalam focus group discussion (FGD). Rencananya akan ada tiga kali FGD tahun ini.

“Sasarannya adalah karang taruna. Karena mereka garda terdepan di desa maupun dusun menghadapi permasalahan social. Salah satunya, vandalisme,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Dwianta Sudibya menguraikan, seseorang melakukan vandalisme sebagai luapan ekspresi. Atau protes sosial.

Ekspresi itu, kata Dibya, muncul bisa karena dendam dan kebencian. Selain itu, tujuan lain vandalisme untuk aktualisasi diri, spontan, dan ungkapan kegembiraan.

Dibya menjelaskan, ada jenis perilaku vandalisme pada lingkungan hidup. Contohnya aksi coret-coret. “Aksi ini umumnya dengan objek tembok, jembatan, halte bus, bangunan, telepon umum, dan WC umum,” kata Dibya.

Vandalisme tidak hanya sebatas coret-coret. Ada pula aktivitas memotong. Bisa memotong pohon, tanaman, atau bunga yang dijumpainya. “Termasuk memetik buah dari tanaman orang lain,” kata Dwianta.

Aksi vandalisme termasuk aktivitas mengambil. Contohnya, mengambil barang, tanaman, dan asesoris lingkungan.

“Ada juga merusak. Misalnya merusak tatanan lingkungan yang sudah tersusun rapi. Merusak sarana prasarana, mencemari lingkungan, mengubah atau menyalahgunakan sarana prasarana,” katanya.

Dibya prihatin dengan banyaknya aksi vandalisme di Sleman. Untuk menekan angka vandalisme, diperlukan peran orang tua, guru, hingga kepolisian.
Peran orang tua untuk menerapkan disiplin kepada anak. Sedangkan guru memberikan keleluasaan siswa mengekspresikan diri pada kegiatan ekstrakurikuler.

Agar ekspresi anak tersalurkan diperlukan kompetisi. Baik kompetisi seni budaya maupun olahraga. “Selain itu, juga harus meningkatkan keamanan terpadu sekolah. Bekerja sama dengan polsek setempat. Meningkatkan disiplin dan sanksi yang tegas bagi pelaku vandalisme,” tandasnya. (har/iwa/mg3)