JOGJA – Bakat itu tak akan nampak kalau tidak diasah. Begitulah ungkapan Anggi Analia, selaku owner Lya Rajut Jogja. Perempuan kelahiran Jogjakarta itu menceritakan, awal mula membuat kerajinan rajut yang dirintis sejak tiga tahun lalu.

Kala itu dia hanya berbekal kebiasaan mengamati perajin rajut di sekitar rumahnya. Selanjutnya, dia memulai mencoba membuat dompet dan sejenisnya. Itu kemudian berlanjut menjadi hobi yang menghasilkan produksi.

Bahkan, berkat keuletannya sekarang dia memiliki usaha rajut. Tentu saja tidak hanya menciptakan produk dompet. Melainkan produk yang digolongkan tiga jenis. Yakni, aksesoris rajut, dekorasi rajut, dan fashion rajut.

Aksesoris rajut meliputi, gantungan kunci berbagai macam, dompet kecil, tas-tas kecil penyimpan ponsel, bros, dan lain-lain. Dekorasi rajut meliputi, vas bunga full rajut, bantal sofa, kotak tisu, taplak meja, dan lain-lain. ”Yang paling baru adalah buah rajut. Ada jeruk, apel, pisang dan lain-lain, ini masih proses produksi. Belum dipasarkan,” kata Anggi ketika mengikuti sebuah pameran di Bantul.

Dia mengaku semula tidak ada rencana berbisnis kerajinan rajut. Dia menyadari ada peluang saat dia menginginkan dompet rajut berharga tinggi. Akhirnya dia membuatnya sendiri. ”Nah, padahal belum jadi dompetnya, malah ada orang yang memesan. Hingga tiga kali membuat selalu terjual. Sejak itu saya yakin, rejeki saya di sini,” bebernya.

Meski proses pembuatannya cukup rumit, selama dilakukan dengan penuh cinta, kata dia, tak jadi kendala. Bahkan seperti air mengalir. Produknya selalu laris di pasaran. Hingga kini belasan produk dia ciptakan.

Dalam satu hari, dia mampu menyelesaikan produknya dua buah gantungan kunci per hari. Jika produknya berukuran besar dan rumit, dia membutuhkan waktu hingga lima hari dalam pengerjaannya.

Meningkatnya jumlah pesanan, dan aktif dalam pameran UMKM, tuntutan produksi menjadi lebih banyak sehingga membutuhkan karyawan. Saat ini dia dibantu tiga orang karyawan.

Produk buatannya dijual dengan harga paling murah gantungan kunci Rp 5.000 per biji. Dan produk termahal berupa 1 set bantal sofa berisi lima bantal, dijual dengan harga Rp 700.000. ”Saya bisa merajut dan saya harus bisa pemasaran,” ungkap ibu dua orang anak itu.

Hingga kini omsetnya mencapai Rp 3 juta. Selain dia menjual produknya di stand UMKM, dia juga membuka galeri mini di rumahnya dan menjualnya melalui online. Dia juga membuka usaha pelatihan rajut. Bisa mendatangi rumahnya ataupun jemput bola. (cr6/din/mg2)