BANTUL – Jika dilihat sekilas, cincin buatan Hendi Hermawan ini serupa dengan cincin kayu pada umumnya. Namun cincin tersebut bukan terbuat dari kayu melainkan berbahan dasar batok atau tempurung kelapa.

Uniknya, variasi bahan yang dia gunakan itu tidak dinyana hadirnya. Selain kombinasi menggunakan bambu, bahan lainnya lainnya menggunakan limbah kartu perdana. Bahkan tutup galon. ”Awalnya hanya iseng. Melihat barang rongsokan memiliki permukaan flat. Kemudian disambung dengan cincin batok. Eh, malah banyak yang suka,” terang pemuda 24 tahun itu.

Konon, warga asal Sompok, Sriharjo, Imogiri, Bantul itu mulai belajar membuat cincin semenjak dia SMA. Namun, dia hanya membuatnya untuk koleksi pribadi. Nah, setelah mendapat respons positif dari teman-temannya, pada 2018 lalu dia baru berani memasarkannya secara luas.

Cincin-cincin tersebut dia jual melalui online. Sejak saat itu juga dia memberi nama produknya dengan sebutan Idneh Craft. Kata Idneh diambil dari kebalikan nama Hendi. ”Awalnya itu iseng. Belajarnya juga dari YouTube,” katanya.

Menurut Hendi, tak butuh waktu lama untuk mempelajari prosesnya. Namun, hal utama yang dibutuhkan yakni ketekunan dan ketelitian. Tujuannya, agar cincin yang dihasilkan dapat terbentuk sempurna.

Dia mengatakan, proses pembuatan cincin batok memerlukan waktu 1,5 jam untuk sebuah cincin. Cara pembuatannya, batok bulet dipotong. Jika batok ingin berwarna hitam, maka batok terlebih dahulu direbus menggunakan oli. Selanjutnya, batok dibor. Dibentuk melingkar sesuai ukuran jari. Setelah itu diamplas agar batok itu lebih flat.

Kalau ingin dikombinasi dengan barang bekas tinggal ditumpuk. Sebelum proses penumpukan barang bekas itu juga diamplas terlebih dahulu. “Langkah terakhir digerenda hingga cincin tampak halus,” jelas Hendi, mahasiswa Universitas Cokroaminoto Jogjakarta itu.

Untuk satu kartu perdana berukuran jumbo, Hendi mampu membuat delapan lapisan cincin. Dia mengaku, terus berinovasi mengembangkan desain dan bahan limbah yang digunakan. Dia juga menargetkan dalam seminggu menghasilkan 3-4 pasang cincin.

Kreativitas Hendi itu jadi usaha sampingan. Di tengah-tengah kesibukannya menjadi mahasiswa dia membagi waktu kuliah, bekerja dan menjalankan usahanya itu. Dia memulai produksi cincin batok di malam hari. Dibantu oleh seorang teman.

Omsetnya dapat menjadi uang tambahan. Dalam satu bulan mencapai Rp 800 ribu hingga Rp 1,5 juta. Harga cincin batok bervariatif. Cincin termurah Rp 15 ribu. Berbahan batok polos tanpa kombinasi dan warna. Dan yang termahal Rp 50 ribu. Itu untuk cincin berlapis kombinasi tiga warna. Tapi dia juga tak menampik kebutuhan pemesan. Justru dari situlah dia menemukan motif-motif dan desain baru.

Kerja keras Hendi dalam membagi waktunya itu membuahkan hasil. Tak sedikit yang memesan cincin buatannya itu. Hingga kini sudah ratusan cincin yang dibuat dan dipesan pelanggan. Kebanyakan melalui online.

Dia mengajak, agar anak muda berani memulai usaha. Jika dijalani dan ditelateni maka akan membuahkan hasil. ”Semua orang punya impian usaha masing-masing. Jangan takut mencoba dan terus selalu berusaha. Percayakan kepada Tuhan,” katanya. (cr6/din/mg2)