JOGJA – Kalau suvenir pernikahan berupa perkakas dapur barangkali sudah biasa. Berbeda dengan Happy Seed yang berinovasi memasarkan suvenir benih. Radar Jogja menemui Faizal Afnan, pemilik usaha ini untuk berbagi cerita bagaimana ide ini muncul.

Sekira sudah setahun dia mengembangkan bisnis ini. Kini dia bisa menjual sampai 12.000 item per bulan. Yang dimasukkan adalah berbagai biji, mulai dari kangkung, kacang panjang, bunga matahari, lombok, bayam, sawi, dan terong. Harganya pun cukup terjangkau, mulai Rp 2.000 sampai Rp 7.000 per item.

Ia membaca potensi besar bisnis ini dari banyak kalangan muda yang mulai sadar untuk menjaga lingkungan. Gaya hidup kembali ke alam pun dipilih banyak orang menyadari kerusakan lingkungan yang mulai mengkhawatirkan. Nah, menawarkan suvenir biji di acara pernikahan dapat menjadi ketertarikan tersendiri karena dapat menggalakkan gerakan reboisasi.

Ia mengemas benih dalam wadah-wadah unik, mulai dari kertas, botol, sampai besek. Dari mulai berdiri sampai sekarang dia terus berinovasi agar dapat bersaing dengan kompetitor. “Tiap tiga bulan sekali kami meluncurkan produk baru,” jelasnya.

Orang yang awalnya tidak begitu tertarik menanam pun, saat mendapat suvenir berupa benih setidaknya penasaran untuk menanam. Pengalamannya saat menikah juga menggunakan suvenir ini. Banyak kerabat yang mendapat suvenir ini, lalu update di instagram kangkung sudah mulai tumbuh. “Ada juga yang malah sudah dimasak,” tuturnya.

Ia mengakui memasarkan suvenir benih cukup mudah, karena selain unik juga sesuai dengan gaya hidup anak muda masa kini. Namun, bukan berarti tanpa kendala. Sempat pengiriman kemasan botol pecah. “Kalau terjadi kami langsung ganti senilai harga yang rusak,” jelasnya.

Selain mengampanyekan gerakan menanam, dia juga melakukan pemberdayaan dengan mempekerjakan warga sekitar. “Terutama ibu-ibu. Mereka sambil mengasuh anak bisa sambil mengerjakan produk,” jelasnya.

Saat ini sekitar 12 orang bekerja sebagai pegawai lepasnya. Sekalipun dikerjakan di rumah masing-masing, bukan berarti tidak ada pengendalian kualitas. “Ada pegawai yang memiliki tugas menjaga kualitas sesuai standar,” jelasnya.

Saat ini dia terus melakukan riset untuk mengeluarkan pengemasan-pengemasan baru. Kalau tidak begitu dia bisa ketinggalan. “Produk yang sudah ada banyak yang meniru,” jelasnya. (cr10/din/mg2)