SLEMAN – Menjelang Pemilu 2019, tingkat kehadiran legislator Sleman menurun. Baik dalam rapat paripurna (rapur), komisi, maupun panitia khusus (pansus).

Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Sleman, Prasetyo Budi Utomo menduga, penurunan kehadiran karena mayoritas legislator mencalonkan diri pada Pemilu 2019. Kebanyakan sibuk bertarung di daerah pemilihan (Dapil) masing-masing.

“Hanya ada dua yang tidak maju. Karena faktor usia,” kata Prasetyo (7/4).
Dikatakan, tingkat kehadiran anggota dewan hanya 60 persen. Tahun lalu, tingkat kehadiran dewan 90 persen. Baik itu saat rapur, komisi, maupun pansus.

“Saat ini, untuk mencapai kuorum sangat berat,” keluh Prasetyo.
Padahal dalam rapur, syarat kourum 2/3 jumlah anggota dewan. Atau separo plus satu. Jika tidak mencapai kuorum, rapat ditunda.

Apalagi rapat untuk mengambil keputusan penting. Menetapkan kebijakan. Kehadiran legislator sangat vital. “Seperti penetapan rancangan peraturan daerah (Raperda). Setidaknya harus ada 35 anggota. Atau 2/3 dari 50 anggota DPRD Sleman,” ujar Prasetyo.

Kendati masa jabatan anggota dewan segera habis, Prasetyo meminta mereka tetap memegang komitmen mejalankan amanat rakyat. Jangan memikirkan kampanye saja. Fokus menyelesaikan pekerjaan hingga masa jabatan berakhir.
Jika anggota dewan malas, akan dijatuhi sanksi. Mulai teguran dari fraksi, peringatan dari badan kehormatan (BK). Jika enam kali berturut-turut tidak hadir, dipecat.

Kinerja legislator yang malas tersebut bisa memengaruhi kepercayaan rakyat. Dalam Pemilu 2019 nanti banyak yang enggan menggunakan hak pilihnya alias golongan putih (golput).

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sleman Trapsi Haryadi menjelaskan, ketidakpercayaan terhadap wakil rakyat menyebabkan masyarakat golput. Apalagi masyarakat yang tingga di daerah perkotaan. “Mereka cenderung rasional,” kata Trapsi.

Pernyataan Trapsi mengacu data Pemilu 2014. Tingkat partisipasi masyarakat di Kecamatan Depok rendah. Terendah dari seluruh kecamatan di Sleman. “Hanya 73 persen,” kata Trapsi.

Salah seorang warga Sleman, Isa Anggit Prasetya, 29, mengatakan masih ragu. Apakah akan menggunakan hak pilihnya atau tidak.

Dia melihat kinerja anggota DPRD Sleman belum dirasakan manfaatnya oleh rakyat. “Mungkin saya hanya mencoblos presiden dan wakil presiden saja,” kata Isa. (har/iwa/zl/mg2)