JOGJA – Ritual adat labuhan, baik di Gunung Merapi maupun Pantai Parangkusumo memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Jawa. Khususnya Jogjakarta. Untuk menjalin komunikasi antara manusia dengan alam.
Ritual ini biasa dihelat saat peringatan jumenengan (kenaikan takhta) Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. Beda dengan masa Sri Sultan HB IX, labuhan dirayakan setiap hari ulang tahunnya.

“Kali ini labuhan alit atau labuhan biasa,” ungkap sejarawan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) H. Jatiningrat kepada Radar Jogja akhir pekan lalu.

Labuhan alit dilaksanakan sekali setiap tahun di tiga tempat. Yakni Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan Gunung Lawu. Sedangkan untuk labuhan ageng digelar sewindu (setiap delapan tahun) sekali, berdasarkan perhitungan kalender tahun Saka. Digelar di tiga tempat yang sama, ditambah Kahyangan Dlepih.

Romo Tirun, sapaan akrabnya, mengisahkan, tradisi labuhan sudah ada sejak masa pemerintahan Sultan Agung. Kurang lebih abad ke-17 (1613-1645). Tradisi itu bahkan telah ada sebelum keraton itu berdiri.

Ada falsafah Jawa yang sangat terkenal, yang pernah diungkapkan Sultan Agung terkait asal mula labuhan. Ketika itu falsafah tersebut merupakan konsekuensi yang bisa dihayati oleh anak cucu Sultan Agung. Ungkapan itu setidaknya menekankan pada tiga hal. Pertama, mangasah mingising budi. “Artinya mempertajam hati kita, nurani kita,” ujar Romo Tirun.

Menajamkan nurani bertujuan mengetahui hal-hal yang tak dapat diungkapkan secara jelas. Mengasah nurani itu pun diyakini berguna untuk menjalin hubungan harmonis dengan hal-hal yang ada di sekitar manusia. Baik yang terlihat maupun tidak.

Kedua, memasuh malaning bumi. Yang diartikan sebagai pengutamaan kesucian dan kebersihan. Hal ini bisa dikaitkan dengan menjaga kebersihan alam dari pencemaran dan sampah yang ada di sekitar manusia.
Lalu ketiga, hamemayu hayuning bawana. Artinya, menghayu-hayukan dunia ini. Atau mempercantik, memelihara, dan melestarikan bumi.

Ketiga falsafah tersebut juga bisa bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang sudah ditakdirkan. Selama manusia ada di dunia harus mampu menjaga dan melakukan ketiga hal itu. Bahwa menjaga kelestarian bumi harus disadari dan dipahami oleh manusia.

Selain itu manusia juga perlu menjalin hubungan antarmakhluk. Bukan hanya manusia. Tapi juga tumbuhan, hewan, bumi, langit, air, bahkan gunung. “Nah ini yang sering tidak diperhatikan. Makhluk itu ada yang kelihatan dan ada yang tidak kelihatan,” jelas Romo Tirun.

Tuhan memberi manusia kelebihan-kelebihan seperti akal dan rasa hingga bisa menjadi khalifatullah. Atau pemimpin di bumi ini.
Romo Tirun lantas mengaitkan tiga falsafah tersebut dengan tradisi labuhan. Sebagai makluk yang memimpin bumi dan seisinya, manusia tak boleh lupa diri.

Perlu adanya komunikasi dan harmonisasi dengan alam dan makhluk lain. Melalui rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Karena apa yang ada di bumi ini tak bisa dilepaskan dari peran penting Sang Pencipta.
Segala bentuk syukur dan terima kasih kepada alam dan makhluk lainnya harus

diniatkan lurus kepada Tuhan. Pemahaman itulah yang harus bisa dimaknai oleh masyarakat saat ini. Supaya lebih bijak mengartikan tradisi yang ada. Tidak melulu dipandang sebagai hal syirik.

Lebih lanjut Romo Tirun mengatakan, budaya dan tradisi di Jogjakarta tak bisa lepas dari kesatuan dan persatuan bangsa. Termasuk dalam tradisi labuhan itu sendiri. Yang memuat makna persatuan dalam keberagaman. (cr9/yog/mg2)