GUNUNGKIDUL – Penanganan sampah dari hulu masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Pemkab Gunungkidul. Indikatornya, dari 144 desa di Bumi Handayani baru 60 di antaranya yang memiliki bank sampah. Padahal, keberadaan bank sampah sebagai pintu terakhir agar sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Wukirsari benar-benar tinggal residu.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul Aris Suryanto tak menampik peran vital bank sampah. Termasuk peran bank sampah dalam menggerakkan roda perekonomian. Lantaran sampah bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah jika dikelola dengan baik.

”Terutama sampah plastik, seperti botol bekas minuman,” jelas Aris saat dihubungi, Minggu (7/4).

Kendati begitu, nilai ekonomi sampah ini ternyata belum mampu mendorong pemkab gencar membentuk bank sampah. Faktanya limbah rumah tangga yang dibuang ke TPAS didominasi plastik. Termasuk di antaranya botol bekas minuman.

”Memang masih belum dipilah,” ucapnya.

Dari pantauan Radar Jogja, kondisi ini memicu persoalan baru. Petugas TPSA berebut sampah dengan pemulung. Petugas ikut-ikutan memungut dan memilah sampah di TPSA. Dampaknya, sebagian pemulung merasa ”tersaingi”. Lantaran pendapatan mereka menjadi merosot.

Namun, Aris menyebut tidak ada yang salah dengan petugas TPSA. Meski, secara kedinasan, tidak ada pegawai TPSA yang bertugas memilah sampah.

”Sampah plastik menjadi ancaman. Tapi jika dimanfaatkan memiliki potensi nilai ekonomi,” kelitnya.

Rinto, 25, seorang pemulung membenarkan petugas TPSA ikut memilah sampah di TPSA. Sehingga hal itu menyebabkan sampah yang tersisa di TPSA hanya bernilai rendah.

”Penghasilan kami sekarang turun,” keluh warga yang tinggal di dekat TPSA Wukirsari ini.

Sampah apa saja yang bernilai tinggi? Rinto menyebut ada beberapa. Di antaranya, botol bekas minuman dan plastik. Botol bekas, misalnya, laku Rp 2.500 per kilogram. Sedangkan plastik dibeli pengepul Rp 1.000 per kg.

”Per hari rata-rata bisa mendapat Rp 60 ribu,” sebutnya. (gun/zam/er)