JOGJA – Labuhan Parangkusumo digelar sehari sebelum labuhan Merapi. Maknanya sama, sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Bedanya, beberapa uba rampe dilarung di laut selatan. Seperti potongan kuku dan rambut, serta pakaian bekas raja. Uba rampe labuhan Parangkusumo di antaranya, singjang cinde abrit, sinajng cinde ijem, sinjang cangkring, semekan solok, semakan gadung, semekan jingga, sela ratus lisah koyoh, dan yatra tindih.

Ada juga uba rampe pendherek, seperti sinjang poleng, sinjang teluh watu, semekan dringin, semekan songer, dan semekan bango tulak. Ada pula lorodan ageman dalem (pakaian yang pernah dipakai raja). Berupa desthar, rasukan takwa (surjan) sinjang, lancingan, lancingan panjang. Serta potongan rambut dan kuku.

Wakil Penghageng Imogiri Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Rekso Suryo Hasmoro menjelaskan, labuhan Parangkusumo kali ini bertujuan sebagai sedekah Sultan bagi kawula (masyarakat). “Setelah dilabuh, uba rampe diambil masyarakat. Nah itu niatnya sebagai sedekah dari Sultan,” jelasnya.

Menurut Rekso, labuhan Parangkusumo secara spiritual sebagai simbol sedekah raja kepada Ratu Pantai Selatan. Sebagaimana perjanjian Panembahan Senopati dengan Eyang Sapu Jagad Merapi. Di pantai selatan, Panembahan Senopati juga terikat perjanjian dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Juru Kunci Cepuri Mas Penewu Surakso Jaladri menambahkan, sesuai kepercayaan lama Kanjeng Ratu Kidul telah memberikan keyakinan batin bagi Keraton Ngayogyakarta. Juga membantu menyingkirkan marabahaya dan berbagai penyakit. Sehingga masyarakat bisa hidup sejahtera. “Dengan kata lain tradisi labuhan merupakan bentuk syukur untuk minta doa kepada Sang Pencipta agar selalu mendapat ketenteraman, keadilan, dan kemakmuran,” ungkapnya.(cr5/yog/mg2)