SLEMAN – PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk melalui Kuku Bima Energi menggelar operasi katarak gratis. Bagi masyarakat kurang mampu.
Sido Muncul bekerjasama dengan Widjanarko Center dan Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jogjakarta. Operasi berlangsung di Rumah Sakit Puri Husada, Minggu (7/4).

Direktur PT Sido Muncul, Irwan Hidayat mengungkapkan, hingga saat ini Sido Muncul telah memfasilitasi operasi katarak hingga 52 ribu mata. Seluruhnya terlaksana di 238 rumah sakit, 211 kota, dan kabupaten seluruh Indonesia.
“Kenapa operasi katarak? Karena fungsi mata itu sangat penting. Apalagi, beberapa penderita katarak masih usia produktif,” kata Irwan di RS Puri Husada.

Dia tertarik baksos operasi katarak saat bertemu dengan Menteri Kesehatan, Nila Moeloek. Dari perbincangannya, dia mengetahui jumlah penderita katarak di Indonesia 2,5 juta orang. Terus bertambah satu persen setiap tahun.
Ditambah lagi, Irwan pernah menjalani operasi serupa saat berusia 65 tahun. Berangkat dari diskusi dan pengalaman pribadi tersebut dia menggelar bakti sosial operasi katarak setiap tahun. Setidaknya 12 ribu hingga 15 ribu operasi mata per tahun.

“Tahun lalu pernah kami turunkan menjadi kisaran 1.200 operasi, karena ada BPJS. Tapi tahun ini kami tingkatkan kembali jadi 12 ribu sampai 15 ribu operasi mata. Masih banyak yang membutuhkan bantuan,” kata Irwan.

Minggu(7/4), Sido Muncul melakukan operasi katarak gratis kepada 51 pasien. Berasal dari Jogjakarta dan beberapa daerah lain. Sido Muncul juga memberikan bingkisan kepada seluruh pasien operasi katarak.

Direktur RS Puri Husada, JB Subroto mengatakan, konsistensi baksos Sido Muncul wajib dicontoh. “Sudah kali ketiga kami bersama Sido Muncul menggelar operasi katarak,’’ kata Subroto.

Respons masyarakat sangat bagus. Mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri. ‘’Sebagai gambaran, biaya operasi katarak Rp 6 juta untuk satu mata,” ujar Subroto.

Beragam penyebab katarak. Mulai dari faktor usia, tumor, hingga intensitas paparan sinar matahari. Kerentanan terus terjadi, apalagi saat ini harapan usia hidup manusia semakin panjang.

Di satu sisi, meski penderita katarak bertambah, teknologi semakin maju. Imbasnya, untuk satu kali operasi tidak memakan waktu lama. Pasien tidak merasakan sakit lagi saat dioperasi.

“Dulu, setelah operasi harus pakai kacamata tebal. Sekarang, setelah operasi langsung bisa beraktivitas. Tapi intensitasnya dikurangi. Tidak perlu takut menjalani operasi katarak,” saran Subroto. (**/dwi/iwa/zl/mg2)