JOGJA – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi bersama Relawan Jaringan Anak Bangsa Untuk Kedaulatan Rakyat Prabowo Sandi (Jangkar PAS), Partai Emak-emak Pendukung Prabowo Sandi (Pepes), dan Relagama DIJ menggelar training of trainer (ToT). Kegiatan untuk 350-500 orang saksi luar, relawan tingkat kecamatan, di wilayah DIJ dan sebagian Jateng plus Jatim, di Plaza XT Square Jalan Veteran, Umbulharjo, Jogja, Jumat (5/4).

Hadir sebagai pembicara konsultan politik dari Lembaga Konsultan Politik Indonesia (LKPI) Starpoll Dendy Susianto dan Pengamat Ekonomi Politik Awalil Rizky.

Ketua Koordinator Saksi DIJ BPN Bambang Aris Sudjoko menyampaikan harapannya agar relawan pemenangan yang hadir bisa mengikuti ToT dengan maksimal dan fokus. Itu agar dapat menjalankan tugasnya dengan benar di TPS nanti.

“Dengan pembekalan saksi untuk tingkat kecamatan, diharapkan mereka bisa memberikan training untuk saksi luar di tingkat desa dan kelurahan serta TPS. Karena salah satu kunci kemenangan ada di saksi ini,” tuturnya.

Bambang mewanti-wanti saat penghitungan suara harus betul-betul diawasi. Termasuk mencocokkan jumlah TPS dan jumlah pemilih harus segera fix. “Kemudian perjalanan kotak suara dari TPS menuju kecamatan, berapa lama menginap, perlu diwaspadai,” tegasnya.

Ketua Panita sekaligus Ketua Relawan Jangkar PAS DIJ Fahmi Rosyadi mengungkapkan sejumlah saksi luar tersebut nantinya akan diterjunkan di tiap TPS yang tersebar di wilayah DIJ. Tiap TPS saksi ini akan turun secara swadaya, idealnya dua orang per TPS. “Pastinya kami berharap agar pemilu ini berlangsung secara jujur dan adil, aman dan tanpa kecurangan,” imbuhnya.

Fahmi mengungkapkan sebagai langkah antisipatif masing-masing saksi akan dibekali dengan aplikasi khusus dari BPN untuk mengambil foto dan melaporkan secara live report hasil di masing-masing TPS. “Diharapkan akan diketahui secara pasti berapa jumlah perolehan suara dari TPS di seluruh DIJ. Khusus untuk saksi luar kita sediakan di setiap kecamatan, mungkin jumlahnya sekitar 23-24 ribu,” paparnya.

Pengamat Ekonomi Politik Awalil Rizky menilai edukasi kepada publik tentang pelaksanaan pemilu yang benar perlu diberikan. “Bahwa ini adalah bagian dari pendidikan demokrasi, hak-hak pemilih harus diketahui, dan masyarakat harus sadar bahwa pemilu harus diawasi bersama,” ujarnya.

Konsultan Politik dari Lembaga Konsultan Politik Indonesia (LKPI) Starpoll Dendy Susianto menggarisbawahi bahwa saksi itu ada dua, saksi dalam yang mengawasi proses jalannya pencoblosan dan saksi luar menjadi saksi di sekitar TPS.

“Potensi kecurangan dalam pemilu itu ada tiga, kecurangan dalam TPS, saat pentransferan data dari TPS ke KPU, dan kecurangan di luar TPS seperti money politik, serangan fajar, dan bagi-bagi sembako,” urainya.

Menurut Dendy saksi luar semakin banyak jumlahnya semakin bagus, sifatnya partisipatif. “Tidak ada aturan yang membatasi jumlah saksi luar dan perlu dipahami bahwa kecurangan itu berbeda-beda untuk setiap daerah,” paparnya. (*/a11/pra/mg2)