JOGJA – Penataan kawasan kumuh di bantaran sungai Buntung di wilayah Karangwaru Tegalrejo Jogja mendapat pengakuan nasional. Hasil kerja keras Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Tridaya Waru Mandiri Karangwaru dan semua elemen masyarakat di kelurahan Karangwaru.

Bicara mengenai kali yang melintasi Kota Jogja, biasanya hanya tentang Kali Code atau Kali Winanga. Padahal adapula Kali Buntung. Terutama yang melintasi wilayah Kelurahan Karangwaru Tegalrejo Kota Jogja. Sudah menjadi Karangwaru Riverside. Jika berkunjung ke sana, mungkin tidak menyangka jika masih masuk wilayah Kota Jogja.

Ya di sana kini tampak asri dengan berbagai tanaman. Rumah warga pun tak lagi membelakangi atau berada di atas kali. Mereka pun kini menjadi jujukan wilayah lain yang ingin belajar penataan kali. Tapi usahanya tak semudah membalik telapak tangan.

Salah satu inisiator Karangwaru Riverside Subandono mengakuinya. “Dulu itu Karawangwaru termasuk wilayah yang kumuh. Sebelum 2009 sering ada endemik penyakit yang disebabkan kekumuhan, orang buang sampah di sungai, tidak memiliki MCK (mandi, cuci,kakus) dan tempat pembuangan kotoran atau septitank,” cerita Subandono Minggu (7/4).

Tapi sekarang telah menjadi salah satu kawasan percontohan Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) se-Indonesia dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Itu karena pengelolaan yang baik melibatkan masyarakat di bantaran kali pada 2016 silam.

Bandono, yang juga Kepala LPMK Karangwaru itu, mengaku membutuhkan waktu yang lama untuk mengubah kawasan yang dulunya tidak layak huni ini menjadi kawasan layak huni. Persoalan terutama mindset masyarakat untuk menata kawasan.

Upayanya berawal pada 2009. Selama satu tahun yang dilakukannya hanya melakukan pendekatan atau sosialisasi kepada masyarakat. Yaitu mengubah mindset pola pikir masyarakat untuk mau terlibat menata kawasan bantaran yang dulunya kumuh tak layak huni menjadi layak huni. “Itu dulu yang dilakukan sebelum pembangunan fisik,” jelasnya.

Setelah pendekatan itu diterima dan mendapat dukungan dari masyarakat, perlahan penataan dan pembangunan pun dilakukan. Berdasarkan kesepakatan bersama masyarakat. Penataan dilakukan dengan enam segmen. Empat segmen dilakukan di Kali Buntung karena memang panjang lebih dari 1.000 meter.
“Karena Kali Buntung merupakan kawasan banjir jika turun hujan. Maka kami utamakan saat itu di Kali Buntung. Kemudian segmen ke lima di Banyurejo, tahap enam di bantaran Kali Code,” jelasnya

Pembiayaan untuk membangun kawasan bantaran kali itu dengan dana bantuan dari Kementerian PUPR dengan total 21.7 miliar. Dari dana yang ada Bandono menjelaskan dilakukan dengan beberapa segmen dan tahap. Pembangunan yang dilakukan diantaranya rumah layak huni bagi masyarakat bantaran kali, akses jalan di bantaran kali. Hingga eberapa fasilitas publik seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH), Bandono menambahkan dengan slogan “Riverside” atau dia terus menginginkan pengembangan kawasan bantaran kali. Tak hanya mengentaskan kekumuhan, pihaknya juga berhasil mengentaskan atau menanggulangi kemiskinan.

Keberadaan BKM pun dimaksimalkan untuk penanggulangan kemiskinan. Yaitu mengembangkan masyarakat dengan UMKM mereka harus membuat Kelola Swadaya Masyarakat (KSM). Para warga dilatih dengan keterampilan. Ada 120 KSM di kelurahan Karangwaru. “Jadi mereka menerima dan begulir dari kami, meminjam dan juga mengembalikan hasilnya memberikan jasa. Untuk pemodalan kembli, infratsruktur yang rusak atau perawatan dan melatih masyarakat. khusunya dalam KSM ekonomi,” tuturnya.

Kondisi saat ini diceritakan kembali oleh Subandono berbeda drastis. Jika dulu selain ada permasalahan kekumuhan dan masalah sosial disebabkan karena ekonomi lemah, sekarang masyarakat sudah mulai mengubah mindset pola pikirnya demi perubahan yang lebih maju.”Jadi saat ini masyarakat sudah mulai berfikir maju, dengan UMKM yang dimiliki masyarakat,” tegasnya.

Hingga saat ini masih terus aktif melakukan gotong royong atau kerjabakti untuk tetap menjaga kawasan bantaran kali ini agar terhindar dari kekumuhan. Selain itu gelar potensi dan produk UMKM. “Harapan saya semoga apa yang sudah dilakukan oleh Kelurahan Karangwaru Kecamatan Tegalrejo ini bisa menginspirasi wilayah lainnya,” harapnya. (**/cr15/pra/mg4)