Bapak menanggung beban berat. Bicaranya tak bisa lepas. Ketika berbicara, seperti ada beban berat yang dibawanya. Beban yang ditanggung bapak memang terasa berat. Bapak diuji kesabarannya. Puteranya acap kali keluar masuk rumah sakit yang khusus merawat orang-orang mengalami gangguan jiwa.

“Saya harus kuat, “ katanya.

Di rumahnya. Yang terbilang sangat sederhana. Bapak menuturkan harus kuat  memiliki anak lelaki menderita gangguan jiwa. Bagi bapak  harus kuat. Karena berbagai masalah menghantuinya terus menerus selama mengasuh anaknya. Dia sering pulang kerja mendadak karena dilapori oleh  tetangga anaknya kambuh.

Dalam situasi seperti itu harus pulang cepat. Bisa jadi kalau terlambat pulang bisa dapat keluhan dari tetangga. Saat kambuh.  Anaknya sering bertindak agresif. Merusak prabotan rumah tangga. Ingin menyerang orang lain.

Belum lagi bila bapak tidak bisa memulihkan kondisi anaknya yang melakukan tindakan agresif, bapak terpaksa mengantarkan ke rumah sakit. Berkali-kali dia lakukan. Anaknya sering kambuh. Tak bisa ditangani. Dan tentu masuk rumah sakit lagi.

Ketika sudah berada di rumah sakit, bapak jarang menengok anaknya. Hal ini karena keterbatasan ekonomi. Bukan karena tidak sayang pada anaknya. Penghasilannya sudah cukup terkuras untuk membiayai transportasi ke rumah sakit.  Maklum penghasilan bapak terbatas.  Dia menjadi buruh bangunan. Untuk menopang kebutuhan sehari-hari, istrinya jualan jenang. Dan anak yang lain menjadi buruh pabrik.

Praktis yang di rumah sering tak berpenghuni. Selepas magrib biasanya anggota keluarga baru berkumpul. Situasi ini yang membuat anak lelakinya sering masuk rumah sakit. Selepas keluar dari rumah sakit harus minum obat secara rutin. Karena orang tua dan saudaranya banyak beraktifitas di luar, maka tak ada yang bisa memantau secara rutin minum obat.  Sebagai dampak dari perhatian yang kurang, anak lelakinya sering bolong minum obat. Faktor hambatan rutinitas minum obat yang menjadikan anak lelakinya harus masuk rumah sakit untuk kesekian kalinya.

Karena alasan di rumah sepi. Tak ada yang menjaga. Bila kambuh bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain, bapak terpaksa memasungnya.  Bapak mengaku pernah memasung anak lelaki dengan rantai yang diikat di pohon. Meronta. Menjerit. Menangis. Dan membrontak. Anak lelakinya tak mau dipasung.

Sebenarnya hati nurani bapak miris. Tak tega. Ingin melepaskan rantai. Namun dirinya tak mampu melepaskan rantai. Rantai di lepas bisa membahayakan orang lain di sekitarnya. Anak lekakinya kalau sedang “sakit” kadang ingin melukai orang lain secara fisik.

Pohon sebagai saksi sejarah, ternyata masih ada orang dipasung. Kini pohon sudah tumbang ditebang pemiliknya. Sayangnya penderitaan anak lelakinya belum tumbang. Masih sering kambuh. Maka bapak memasung anak lelaki di salah satu kamar.

Belum lama ini  anaknya masuk rumah sakit. Sejak masuk rumah sakit belum pernah menengok satu kali pun. Lagi-lagi karena faktor ketiadaan biaya yang membuat bapak belum bisa menengok anaknya.

“Saya harus ikhlas, “ katanya.

Bagi bapak gangguan jiwa yang dialami oleh anaknya merupakan ujian dari Allah SWT. Maka bapak harus ikhlas. Anak adalah amanah dari Allah SWT. Keyakinan ini yang memotivasi bapak tak luntur mengupayakan kesembuhan anaknya seperti semula. Apapun kondisi anaknya. Bapak tetap menyayangi anaknya. Tulus.

Setelah pulang dari rumah sakit. Bapak tetap menerima anaknya. Tak membedakan dengan anak-anaknya yang lain. Dia akan terus merawat dan terus merawat sampai anaknya bisa hidup secara wajar. Sehingga tak akan terjadi  lagi anak lelaki kesayanganya berada dalam pasungan.

Bagi bapak hidup secara wajar tak muluk-muluk. Anaknya bisa mandiri. Bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Bila suatu saat bapak tidak ada. Anak bisa menjalani kehidupannya. Tidak menjadi beban orang lain. Semoga. Aamin.

Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi UAD