SLEMAN – Salah satu penyebab kebutaan adalah penyakit katarak. Yaitu pengabutan pada lensa mata. Sehingga menyebabkan penglihatan menjadi kabur. Penyakit ini menyerang mereka yang berumur 40 tahun ke atas.

Di Sleman, sebanyak 23.860 orang, atau dua persen dari 1,193 juta penduduk Sleman, terkena katarak. Plt Direktur RSUD Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, risiko terbesar penyakit ini adalah kebutaan.
“Saat ini, kesadaran masyarakat mulai meningkat. Untuk memeriksakan kesehatan matanya,” kata Joko (8/4).

Untuk mencegah dan meminimalisasi dampak katarak, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menggelar bakti sosial. Yaitu operasi katarak gratis.
Acara ini sekaligus menyambut HUT ke-103 Sleman. “Ini sudah kali keempat kami menggelar operasi katarak,” kata Joko yang juga menjabat Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman.

Animo masyarakat cukup tinggi. Pada 2019, jumlah pasien yang mendaftar sebanyak 191. Sedangkan pada 2018 sekitar 100 pasien.

Dari jumlah itu, 90 orang positif terkena katarak. Namun, yang bisa dioperasi hanya 45 orang. Sebab, mereka yang akan operasi harus memenuhi syarat. “Jadi diperiksa dulu kondisi tubuhnya. Bisa dioperasi atau tidak,” ungkapnya.

Menurut Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) 2018, kata Joko, di Provinsi DIJ ada sekitar 2 persen penderita katarak. Sedangkan rata-rata operasi katarak di DIJ mencapai 10 ribu pasien.

Untuk di Sleman, kata Joko, karena ada sistem penerapan rujukan online BPJS, maka operasi katarak hanya bisa dilakukan di rumah sakit kelas D dan C. Jika ada komplikasi berat, bisa ditangani di rumah sakit kelas B seperti di RSUD Sleman.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun menjelaskan, operasi katarak gratis ini merupakan komitmen pemerintah dalam hal kesehatan. Terkait masyarakat yang tidak memenuhi syarat, dia meminta agar tidak berkecil hati.

“Masih ada kesempatan lain waktu. Ini agar penanganannya maksimal,” ujar Muslimatun. (har/iwa/mg3)