PEMILIHAN UMUM (pemilu) serentak presiden dan legislatif tidak lama lagi akan segera diselenggarakan. 17 April 2019 mendatang, segenap elemen bangsa akan menentukan nasib bangsa untuk periode lima tahun kedepan. Segala persiapan sudah semakin ”dikebut” guna kelancaran pelaksanaan Pemilu serentak.

Pihak penyelenggara, yakni Komisi Pemilihan Umum (KPU) beserta lembaga lain terus bekerja menyiapkan logistik pemilu agar siap dan mencukupi. Para kontestan pemilu, baik calon presiden (capres) beserta wakilnya dan calon anggota legislatif (caleg) tingkat pusat hingga daerah juga semakin intensif menyapa para konstituennya guna mendapatkan simpati dan dukungan suara yang maksimal. Upaya tersebut umumnya dilakukan oleh capres dan caleg melalui proses kampanye terbuka yang akan berakhir pada tanggal 13 April 2019 mendatang.

Hal utama yang disorot pada periode kampanye saat ini (terutama kampanye capres) adalah terkait upaya-upaya yang mengarahkan suatu kelompok untuk percaya pada berita bohong (hoax). Dalam Kamus Bahasa Indonesia (KBBI), hoax diserap menjadi hoaks dan diartikan sebagai suatu berita bohong. Sedangkan, dalam Kamus Jurnalistik, berita bohong (Libel) diartikan sebagai berita yang tidak benar sehingga menjurus pada kasus pencemaran nama baik. Contoh hoax jelang pemilu 2019 yang sampai saat ini memiliki ”daya tahan” yang cukup baik dan relatif sering bergulir dikalangan masyarakat adalah yang terkait dengan pandangan/orientasi politik para pendukung masing-masing pasangan capres yang akan berkompetisi pada pemilu 2019 mendatang.

Jika mengacu pada data yang tersedia, hingga saat ini memang isu hoax tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja. Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagaimana dirangkum oleh katadata.co.id. tercatat pada periode Agustus 2018 hingga desember 2018 tercatat 243 kabar hoax bertebaran pada berbagai platform media sosial dan elektronik. Sedangkan, pada periode Januari 2019 hingga Februri 2019 tercatat 528 kabar hoax tersebar pada berbagai media sosial. Jika mengacu dari media penyebarannya, tercatat Facebook masih menjadi platform terfavorit untuk menyebarkan hoax (81,3%). Berturut-turut, Whatsapp (56,6%), Instagram (29,5%), LINE (11,4%), Twitter (10,4%), Telegram (5,9%) menjadi “tempat” bagi mereka yang gemar menyebarkan kabar hoax (Kominfo).

Berdasarkan pemaparan data diatas, diketahui bahwa media sosial yang familiar dan dekat dengan masyarakat menjadi sarana terfavorit dalam upaya penyebaran hoax. Butuh perhatian ekstra, mengingat platform tersebut juga sangat mudah dijangkau oleh anak-anak dan remaja yang notabene belum mampu membedakan mana yang termasuk berita benar dan berita bohong. Selain itu, konten hoax yang sering ditampilkan juga cukup beragam. Tercatat, isu politik (181 temuan) masih menjadi isu yang paling sering disebarkan. Berturut-turut selanjutnya, isu kesehatan (126 temuan), isu pemerintahan (119 temuan), isu fitnah terhadap individu tertentu (110 temuan), isu kejahatan (59 temuan), dan isu agama (50 temuan) menjadi isu-isu yang sering bergulir dan cukup rutin dikonsumsi publik. Berbagai jenis isu hoax tentu dapat mengakibatkan dampak buruk bagi bangsa Indonesia.

Efek jangka pendeknya, massive-nya berita hoax tentu akan menghambat persiapan pelaksanaan pemilu 2019. Efek jangka panjangnya, berita hoax yang terus dipelihara tentu berpotensi mengganggu stabilitas nasional dan persatuan bangsa Indonesia. Mengingat begitu berbahayanya dampak dari penyebaran berita hoax baik yang disengaja maupun tidak disengaja, sudah saatnya seluruh elemen masyarakat memberikan respon perlawanan terhadap hoax. Antisipasi tersebut tidak hanya berlaku jelang pemilu 2019 saja, tetapi juga kita (masyarakat dan pemerintah) harus memiliki daya antisipasi jangka panjang agar situasi kebangsaan Indonesia dapat terjaga kondusif.

Saat ini dan dimasa yang akan datang, pemerintah dan masyarakat harus mampu memahami dan melaksanakan UU ITE No.19 Tahun 2016 (Revisi UU ITE No.11 Tahun 2008) dengan berlogika hukum yang baik, tegas, adil, arif dan bijaksana. Selain itu, sebagai pemilik dan pengguna, media sosial, smartphone dan alat elektronik lainnya, masyarakat juga harus sadar, sabar, dan pintar merespon setiap berita yang masuk. Kesadaran, kesabaran, dan kepintaran dalam menerima berita tentu akan berdampak pada munculnya sikap hati-hati dan selektif serta tidak mudah terpancing untuk meneruskan/menyebarkan berita hoax kepada pihak lain. Apabila dua hal tersebut dapat bersinergi dengan baik, harapan akan hilangnya atau minimalnya penyebaran berita hoax di Negara Kesatuan Republik Indonesia semoga dapat segera terwujud. (ila)

*Penulis merupakan Dosen Universitas ‘Aisyiyah Jogjakarta.