SLEMAN – Para pemimpin Amerika dan sebagian dari negara Eropa memang dikenal suka mengobarkan perang di negara lain (disebut: perang terbatas). Mereka itu harus berpikir ulang, dikarenakan generasi muda di negara manapun tak suka perang. Keputusan perang oleh para pemimpin negeri-negeri superpower itu dianggap sebagai kebodohan masa lalu dan merupakan suatu keputusan yang dianggap sebagai ideology primitive.

Anak-anak muda di Amerika pun sangat sedih tetapi tak berdaya ketika harus masuk milisi dan dikirim ke kawasan Timur Tengah atau ke Afganistan untuk berperang melawan manusia yang tidak bermusuhan dengan dirinya sendiri. Mereka tak tahu apa yang harus dibela untuk negerinya dan tanah airnya yang tidak dalam posisi diserang negara kecil dan terbelakang.

Melalui kemampuan intelektualitasnya, anak-anak muda itu dapat mengakses informasi yang sangat rahasia pemerintahnya sendiri. Mereka pun tahu bahwa keputusan perang tidak selalu untuk kepentingan nasionalnya. Tapi, kepentingan bisnis pun bisa masuk melatarbelakangi perang terbatas tersebut.

Kesemua itu menimbulkan ketidak percayaan pada pemerintah pada masing-masing negara. Sebaliknya generasi muda di berbagai negeri di abad 21 ini justru ingin lebih banyak mengenal manusia di negeri yang berbeda dan ingin membangun relasi kultural sebagai cara untuk menghilangkan bentuk prasangka antarbangsa. Itu pula yang menjadikan mereka (dengan tabungan sendiri), melakukan tur ke banyak negeri, meski harus dengan backpacker bersama teman-temannya.

Kadang kala, kita temukan generasi milenial asing serius bekerja dengan laptop dimukanya di sebuah coworking yang dikenal punya akses wifi cepat. Dia bukan pekerja asing yang bekerja pada sebuah korporasi yang beroperasi di negeri ini, tetapi tetap bekerja pada korporasi di negeri asalnya.

Teknologi informasi yang menjadikan anak muda bisa bekerja di mana saja tanpa harus nongkrong di kantor korporasi dan sekaligus berwisata ke seluruh penjuru dunia. Dua sampai tiga bulan mereka berada di Jogja, bulan berikutnya mungkin sudah di Nepal atau di negeri manapun yang menarik. Budaya baru bekerja sambil berwisata itu bukan melulu perilaku generasi milenial Eropa saja. Tapi, generasi milenial negeri ini pun juga punya adat yang sama.

Tren perilaku wisata generasi milenial itu apakah selalu mencari apartemen atau hunian yang serba mewah? Ternyata tidak! Mereka justru paham, di mana lokasi hunian yang ideal, murah, dan nyaman tetapi sangat lekal dengan budaya lokal. Jika, orang-orang negeri ini kagum dan demen hunian yang wah, mereka justru mencari hunian di tengah kampung dan ingin akrab dengan tetangganya di rantau itu. Mereka pun juga ingin menikmati makan dengan menu lokal dan asyik juga menikmati gudeg pinggir jalan, meski sangat kentara pula memilih menu apa yang sekiranya memenuhi standar higienitas yang diinginkan.

Karena berwisata sembari kerja, mereka pun tetap mengikuti jam kerja rutine di negerinya. Makanya tidak aneh, justru di siang hari masih pada tidur karena pola aktivitas ekonomi dan bisnis yang berbeda. Namun, hari Sabtu dan Minggu mereka benar-benar menikmati liburan di objek wisata di negeri tujuan.

Kerja sambil berwisata adalah tren wisata generasi milenial yang mengasyikkan dan murah meriah. Jika Anda bekerja di Jakarta dan pekerjaan bisa selesaikan di mana saja, kenapa harus mangkal dan tinggal di Jakarta yang sebagai tempat hunian sangat tidak nyaman dan mahal. Jika ingin irit, lebih nyaman tinggal di Pakem tetapi punya standar gaji Jakarta. Bilamana Anda masih bujangan, kenapa tidak tinggal di berbagai tempat wisata sekaligus, bekerja sambil memperluas wawasan dan pengetahuan.

Di abad ke-21 ini, akan kita temukan semakin banyak orang cerdik-pandai. Anak muda yang pintar pun ada di mana-mana. Bukan lagi monopoli orang Amerika atau yang ras putih. Yang hitam dan sawo matang pun punya pengetahuan yang tinggi. Yang kuning pun bukan hanya Jepang saja yang pintar-pintar.

Hidup di zaman sekarang ini bukan lagi persaingan antarras atau antarbangsa. Tetapi, persaingan antarindividu manusia. Setiap individu punya hak yang sama untuk berbisnis dengan siapa saja di negara manapun. Sebab, pergaulan manusia saat ini sudah tak berbatas lagi.  Saking hebatnya, kontak antarmanusia di seluruh bumi ini bisa mengakses perajin di pelopok desa terpencil Sleman dengan para pelanggan di pelosok desa negara lain.

Itulah sebabnya, generasi milenial punya sense kemanusian yang jauh berbeda dengan generasi di atasnya. Mereka pun ketawa ngakak ketika Donald Trump lagi berunding soal pelucutan senjata nuklir Korut dengan Kim Jong Un, sebagai perundingan dua “monster” masa lalu yang dihidupkan lagi. Angkatan perang di abad milenial bukanlah solusi masa depan. Demikian juga mimpi negara harus punya angkatan bersenjata yang siap perang adalah kekumuhan berpikir para politisi di banyak negara. Termasuk di negeri tercinta ini.

Kadang kala sesuatu yang sangat dipikirkan oleh generasi yang lebih tua, dengan persepsi yang dibangun masa lalunya sendiri, justru tidak akan menyelesaikan masalah di masa depan. Dan ternyata ketika masalah itu diserahkan ke tangan generasi muda dapat diselesaikan dengan cara yang sangat simpel dan tidak menimbulkan komplikasi apa pun. Semua itu karena persepsi sesuatu masalah yang dianggap rumit oleh generasi terdahulu. Ternyata masalah yang rumit itu bukan masalah bagi generasi muda.

Anak-anak generasi milenial itu biarkan bergaul dan mencari temannya sendiri. Sebab, mereka itu akan hidup bersama teman-temannya. Bukan teman kita yang sudah tua ini. Mereka pun juga punya model kehidupan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Oleh oleh karena itulah, berikan kesempatan dan kebebasan mencari jalan terbaik buat mengatur kehidupan mereka sendiri.

Berteman dan bersahabat pun tak lagi sebatas wilayah suatu negeri. Mereka itu berteman dengan seluruh warga dunia. Itulah sebabnya mereka gemar ke mana-mana untuk meluaskan wawasan dirinya sendiri dan membangun komunikasi dengan siapapun. Gerakan antiperang di kalangan anak muda dan persahabatan antaranak bangsa di seluruh dunia punya sisi lain dalam perilaku berwisata yakni bekerja sambil bersenang-senang. (amd/fj)