JOGJA – Anggota Peduli Kucing Pasar dari berbagai background. Mereka punya semangat yang sama: jangan ada lagi kucing yang kelaparan di pasar.

SEVTIA EKA N, Jogja

Sudah tak terhitung lagi berapa ekor kucing yang diberi makanan dan dirawat. Pun dengan berapa rupiah yang dikeluarkan.

”Seminggu bisa dua kali teman-teman memberi makan kucing,” jelas Khotimah Ummi menceritakan aktivitas teman-temannya yang tergabung dalam komunitas Peduli Kucing Pasar (PKP).

Ya, komunitas yang beranggotakan sekitar 30 orang ini konsisten memperhatikan nasib kucing. Tapi, bukan kucing rumahan, apalagi peliharaan. Melainkan kucing-kucing telantar di Pasar Beringharjo.

Menurut Ummi, PKP berdiri pada 2015. Penggagasnya adalah Ratna Kiswandari, salah satu pendiri Animal Friends Jogja.

Empat tahun lalu, perempuan yang akrab disapa Nana tersebut mengawali gerakan dengan cara sederhana. Saat itu dia hanya menitipkan pakan kucing kepada seorang pemelihara kucing di Pasar Beringharjo.

”Perempuan itu tinggal di pasar bersama kucing-kucingnya,” tuturnya.
Tak lama berselang, kata Ummi, Nana berinisiatif menggalang gerakan. Diajaknya beberapa temannya. Mereka rutin mendatangi satu per satu pasar rakyat. Untuk mencari kucing-kucing telantar. Bukan dibawa pulang untuk dipelihara. Melainkan untuk diberi makanan.

Seiring waktu berjalan, anggota PKP bertambah. Termasuk di antaranya Ummi. Saat ini anggota aktif PKP sekitar 40 orang. Mereka dari berbagai latar belakang.

”Saat itu (bergabung, Red) saya masih di bangku kuliah,” ucap perempuan 25 tahun ini.

Anggota PKP seringnya memilih sore atau malam hari untuk ”beraksi”. Ketika pasar rakyat telah tutup. Mereka baru mencari kucing-kucing telantar di sudut pasar saat pedagang telah pulang. Namun, sebelumnya, mereka telah mengantongi izin penjaga pasar. Yang menarik lagi, PKP tidak sekadar memberikan makanan. Mereka juga memantau kondisi kucing-kucing yang berkeliaran di pasar.

”Kebetulan ada beberapa anggota PKP dari kalangan pedagang pasar,” katanya.
Ummi melihat sebagian warga memiliki paradigma yang keliru. Mereka menganggap kucing sebagai hama. Jadi, tidak sedikit kucing yang dibiarkan telantar. Terutama di pasar.

Faktor inilah yang mendorong anggota PKP sukarela berbagai rezeki dengan kucing. Agar tak ada lagi kucing yang mencari sisa-sisa makanan di tempat sampah.

”Kucing melakukan itu (mencari makan di tempat sampah, Red) karena insting untuk bertahan hidup,” ungkapnya.

Saat ”beraksi” di pasar, Ummi cukup sering melihat kucing dengan kondisi mengenaskan. Sebagian tubuhnya terluka. Pengalaman itu juga pernah dialami sebagian besar anggota komunitas.

”Kalau ada yang terluka kami rawat dan obati hingga sembuh. Kami juga mencarikan tempat tinggal baru yang aman,” tambahnya.

Melalui gerakan street feeding ini, Ummi bersama rekan-rekannya juga ingin memberikan edukasi sekaligus mengubah paradigm sebagian warga. Bahwa kucing bukanlah hama. Kucing layak mendapatkan perawatan. Tidak ditelantarkan begitu saja di pasar maupun jalanan. (zam/mg2)