JOGJA – Beberapa insiden kericuhan yang terjadi selama masa kampanye terbuka di wilayah Kota Jogja diharapkan tak terulang saat pencoblosan. Untuk itu Polresta Jogja melakukan antisipasi dengan melakukan pemetaan daerah rawan.

Tujuannya untuk mengoptimalkan personel di setiap tempat pemungutan suara (TPS). Wakapolresta Jogja AKBP Ardiyan Mustakim mengakui jika wilayah Jogja rentan friksi. Tidak hanya kampanye terbuka tapi juga TPS.

“Friksi-friksi seperti ini tentu menjadi evaluasi bagi kami. Khusus untuk 17 April (saat pencoblosan) kami menyiagakan 590 personel di seluruh TPS,” katanya ditemui di Mapolresta Jogja, Selasa (9/4).

“Diluar itu (penjagaan TPS), menyiagakan tiga perempat kekuatan atau 1.300 personel,” tambahnya.

Terkait dengan insiden penganiayaan simpatisan pasangan calon (Paslon) Presiden dan Wapres di kawasan Danurejan Senin (8/4), jajaran Satreskrim Polresta Jogja mulai mengumpulkan bukti rekaman closed circuit television (CCTV). Tujuannya guna mengetahui ciri fisik pelaku dan arah melarikan diri.

“Untuk identitas dan ciri-ciri pelaku belum kami kantongi karena ini juga masih proses,” jelasnya.

Penganiayaan berawal saat kedua korban melintas kawasan jalan Mataram Suryatman Danurejan. Setibanya di kawasan toko sepatu, korban dihentikan oleh tiga pelaku. Muklis mengalami luka tembak airsoftgun, sementara Suhadi menjadi korban sasaran ketapel.

Korban, lanjutnya, juga diminta melepas atribut kampanye. Usai menganiaya, pelaku melarikan diri ke arah Cokrodirjan. Sementara korban melanjutkan perjalan ke selatan. Setelahnya melapor ke personel pos polisi Gondomanan dan periksa ke RS PKU Muhammadiyah.

“Keterangan sementara yang kami dapat baru sebatas itu. Secepatnya akan kami ungkap,” ujarnya. (dwi/pra/mg1)