JOGJA – Imbauan hingga teguran, sepertinya, tak mempan menekan penggunaan knalpot blombongan saat penyelenggaraan kampanye terbuka. Itu terlihat dari banyaknya sepeda motor peserta kampanye terbuka yang diamankan kepolisian. Dalam dua kali kampanye terbuka, Polresta Jogja mengamankan 69 unit sepeda motor.

Perinciannya, 37 unit saat kampanye terbuka pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Minggu (7/4). 32 unit sisanya saat kampanye terbuka capres-cawapres nomor urut 02 Senin (8/4).

Wakapolresta Jogja AKBP Ardiyan Mustakim menyebut puluhan unit sepeda motor itu diamankan saat peserta kampanye konvoi. Di antaranya saat peserta kampanye pasangan capres nomor 01 konvoi di Jalan Brigjen Katamso dan Jalan RE Martadinata.

”Yang hari kedua (kampanye terbuka pasangan nomor urut 02, Red) diamankan di kawasan Kridosono dan sekitarnya,” jelas Ardiyan di Mapolresta Jogja, Selasa(9/4).

Dari puluhan unit yang diamankan, Ardiyan memastikan seluruhnya telah dimodifikasi. Sebagian bahkan ada yang tidak terpasang plat nomor dan spion. Parahnya lagi, pengendara 39 unit sepeda motor itu tak dapat menunjukkan SIM (surat izin mengemudi) dan STNK (surat tanda nomor kendaraan).

”Ya kami sita dan kami bawa motornya ke kantor. Mereka (di antaranya) melanggar Pasal 285 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan Angkutan Jalan,” tegasnya.

Selain melanggar, Ardiyan melihat, knalpot blombongan turut memicu gesekan. Terutama, pengendara dengan pengguna jalan atau warga. Lantaran raungan knalpot blombongan cukup memekakan telinga.

Menurutnya, kepolisian juga mengamankan puluhan tongkat kayu dan bambu. Juga satu tongkat besi.
”Mereka berdalih (tongkat kayu dan bambu) untuk bendera,” ungkapnya.

Kasatlantas Polresta Jogja Kompol Dwi Prasetyo mengakui jumlah peserta konvoi yang ditilang cukup tinggi. Namun, dia mengklaim terjadi penurunan.
”Menikmati pesta demokrasi boleh, tapi bukan jadi alasan melanggar aturan,” ingatnya. (dwi/zam/mg2)