SLEMAN – Lalu lintas kendaraan bermotor di Sleman semakin padat. Pada jam-jam tertentu, kepadatan semakin terlihat. Terutama saat antre menunggu lampu hijau menyala.

Emisi gas buang kendaraan pun meningkat. Kualitas udara semakin rendah. Memengaruhi kesehatan warga yang melintas di jalan. Namun, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Dwi Anta Sudibya mengatakan, kualitas udara di Sleman masih baik, nilainya 70 hingga 80. “Indeks kualitas udara tersebut masih tergolong baik,” jelas Dibya (9/4).

Pencemaran udara, kata Dibya, banyak ditimbulkan asap kendaraan. Terutama kendaraan yang berhenti di persimpangan.

Guna meningkatkan kualitas udara, tidak cukup dengan membatasi kendaraan. Karena Sleman merupakan jalur vital menghubungkan DIJ dan Jawa Tengah.
“Caranya ada dua. Cek kendaraan. Atau menambah pohon, untuk menyerap emisi gas buang,” kata Dibya.

Cara tersebut saling berhubungan. Namun, pilihan menambah pohon menjadi opsi terbaik. Selain menyerap emisi karbon, pohon membuat sejuk.

Penambahan pohon, kata Dibya, difokuskan pada beberapa simpang. Saat ini baru di simpang Denggung dan Jombor yang memiliki ruang terbuka hijau (RTH). “Untuk simpang lain terkendala lahan,” kata Dibya.

Dia berkomitmen menambah tanaman pada simpang-simpang lain. “Kami berusaha maksimal untuk menanam pohon,” tegasnya.

Kabid Lalu lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman, Sulton Fatoni mengakui, kendaraan bermotor menjadi penyumbang polusi terbesar. Dengan lalu lintas padat, kendaraan berjalan lambat.

“Kendaraan yang lambat membuat pembakaran bahan bakar minyak tidak sempurna. Akibatnya, tingkat polusi tinggi,” ungkap Sulton. Jalan yang berpolusi udara yang tinggi biasanya ada di jalan-jalan nasional. Apalagi, ruas jalan yang banyak antrean kendaraannya.

Uji emisi merupakan satu cara mengetahui kualitas gas buang. Apakah masih bisa ditolerir atau berbahaya. “Kalau di Sleman, kendaraan wajib uji. Angkutan barang, 95 persen lolos uji emisi,” kata Sulton.

Yang tidak terpantau justru kendaaran pribadi. Karena tidak wajib uji emisi. Pihaknya berupaya memasang pengukur indikator kualitas udara pada simpang padat lalu lintas.

“Sehingga kalau emisi karbonnya tinggi, ada alternatif kebijakan. Paling tidak, ditambah tumbuhan penyerap karbonnya,” kata Sulton. (har/iwa/mg3)