SLEMAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman selama dua hari melakukan uji emisi kendaraan untuk mobil pelat merah dan mobil pribadi. Dari hasil uji emisi itu, 20 persen mobil aparatur sipil negara (ASN) tidak lolos uji emisi.

Petugas uji emisi, Sutiman menjelaskan, dari 110 mobil ASN yang diuji, 20 persen di antaranya tidak lolos. Atau sejumlah 22 kendaraan. Baik itu mobil bensin atau solar.

“Kalau untuk mobil bensin, 90 persen keadaannya baik, dan lolos uji emisi,” ujar Sutiman yang juga seorang dosen Fakultas Teknik UNY, Rabu(10/4).
Permasalahan utama pada kendaraan yang tidak lolos uji emisi, kata dia, adalah pada perawatan. Dimana masyarakat jarang melakukan perawatan rutin.

“Biasanya karena filter udara yang terlalu kotor, penggunaan bahan bakar tertentu yang kualitasnya jelek. Dan pembakaran tidak sempurna,” ungkapnya.
Tahun pembuatan kendaraan juga berpengaruh terhadap baku mutu emisi. Dimana pada mobil bensin produksi 2007 ke bawah, ambang batas kadar CO (karbon monoksida) harus di bawah 4,5 persen. Sedangkan produksi 2007 ke atas, maksimal kadar CO sebesar 1,5 persen.

Sementara itu, untuk kadar HC (hidro karbon) untuk mobil produksi 2007 ke bawah ambang batas produksi HC sebesar 1.200 ppm. Untuk tahun 2007 ke atas maksimal 200 ppm.

“Jadi semakin muda mobil, emisi semakin ditekan,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Dwi Anta Sudibya menjelaskan uji emisi ini sangat penting. Pasalnya, pencemaran udara paling banyak disebabkan oleh asap kendaraan.

“Uji emisi ini ditargetkan 150 kendaraan ASN dan 500 kendaraan pribadi,” kata Dibya.

Memang untuk mobil ASN belum semua bisa melakukan uji emisi. Namun, dari hasil uji emisi yang didapat, hal ini bisa menjadi bahan kajian. Untuk menentukan kebijakan yang akan diambil.

Lebih lanjut, Dibya menjelaskan, dalam anggaran Pemkab Sleman terdapat biaya untuk perawatan mobil dinas. Biaya itu disesuaikan dengan tahun pembuatan mobil, jenis mobil, dan kebutuhan biaya perawatan mobil per tahun.
“Jadi sudah ada rincian biayanya, kalau kendaraan dinas tidak lolos uji emisi kan ini jadi pertanyaan” ujarnya.

Oleh karenanya, dengan diketahui berapa banyak mobil dinas yang tidak lolos uji emisi, juga diketahui siapa yang memegang mobil itu. Sehingga hal ini bisa menjadi bahan pertimbangan.

“Hasil ini akan kami sampaikan kepada pimpinan, karena di Pemkab Sleman ada anggaran untuk pemeliharaan kendaraan,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman Sulton Fatoni mengatakan untuk kendaraan pribadi memang tidak diwajibkan untuk uji emisi. Yang wajib adalah kendaraan barang dan kendaraan penumpang umum.

Untuk kendaraan yang wajib uji, kata Sulton, enam bulan sekali harus melakukan uji emisi. Saat ini di Sleman sudah 95 persen kendaraan wajib uji dinyatakan lulus.

“Tapi yang kendaraan tidak wajib uji ini yang tidak terpantau,” ungkapnya.
Emisi gas buang ini sangat berbahaya bagi tubuh. Sehingga jika tidak banyak kendaraan yang melakukan uji emisi, pencemaran udara akan semakin memprihatinkan.

Dalam asap kendaraan, ada banyak senyawa berbahaya. Selain CO dan HC, juga terdapat kandungan timbal. Senyawa-senyawa berbahaya itulah yang bisa memicu asma, pusing, batuk, dan menurunkan tingkat kecerdasan.

“Bahkan, jika terlalu banyak menghirup CO bisa menyebabkan kematian,” kata Sulton. (har/iwa/mg3)