GUNUNGKIDUL – Pandai besi tradisional di antara sekian profesi yang hampir punah. Mereka kesulitan mencari generasi penerus.

GUNAWAN, Gunungkidul

Dari sebuah gubuk kecil suara besi beradu nyaring terdengar. Suaranya seperti bersahutan. Kian dekat suaranya semakin nyaring. Di bangunan itulah Suwandi dan Dwi Astuti, istrinya beraktivitas.

Seperti Senin (8/4), Suwandi dibantu istrinya, saban hari berjibaku dengan arang, palu besi, blower, dan bara api. Keduanya seolah tidak peduli dengan panasnya bara api yang menyengat kulit. Mereka terlihat asyik memukul-mukul lempengan besi panas. Menggunakan palu besar berukuran lebih dari lima kilogram.

”Ya memang seperti ini pekerjaannya,” ucap Suwandi ketika disinggung risiko pekerjaannya.

Pria 42 tahun itu menggeluti profesi sebagai pandai besi sejak masih muda. Dia meneruskan usaha yang dirintis orang tuanya. Jadi, Suwandi tak pernah tebersit mencari pekerjaan lain. Meski, jam kerjanya bisa disebut sepanjang hari. Mulai pagi hingga sore hari.

”Apalagi, tempatnya kan cuma di sekitar rumah,” ucapnya merendah.
Meski full day, Suwandi tak jarang berhenti beraktivitas. Saat tetangga atau warga Desa Karangtengah, Wonosari, Gunungkidul punya gawe. Seperti pernikahan, atau di antara warga ada yang meninggal dunia.

Menurut Suwandi, usahanya spesialis membuat alat pertanian. Seperti cangkul.
”Yang berbahan besi kapal,” kata Suwandi sembari menyeka keringat yang mulai mengucur di dahi.

Sejenak beristirahat, Suwandi lantas bercerita mengenai proses pengerjaan alat pertanian. Mulai awal hingga akhir.

”Palu ini dipakai pekerja untuk membentuk besi menjadi alat-alat pertanian dan bangunan berbagai jenis,” ujarnya.

Dari tangan terampil pria ini, telah lahir berbagai macam peralatan pertanian. Yang terbanyak cangkul. Spesialisasi itu dari peninggalan orang tuanya.
”Namun sekarang profesi seperti ini hampir punah, karena tidak ada generasi penerus,” tuturnya.

Ya, kedua anak Suwnadi sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tidak ada tanda-tanda mereka akan menjadi pewaris usaha pandai besi orang tuanya. Kendati begitu, Suwandi tak mempersoalkannya. Dia memberikan keleluasaan bagi kedua anaknya.

Saban hari, Suwandi menyebut setidaknya bisa membuat 20 cangkul. Alias satu kodi per hari. Harganya Rp 800 ribu per kodinya.

”Sebagian dijual ke pasar-pasar Bantul, Sleman, dan Kulonprogo,” ucap Suwandi menyebut bisa mengantongi keuntungan Rp 150 ribu per kodi.

Apa ada kendala dalam proses produksi? Menurutnya, kendala pada bahan bakar arang. Sebab, arang terbaik berasal dari kayu jati. Arang dari kayu jenis lain membuat proses produksi lebih lama.

”Pandai besi kan juga dapat pelatihan dari pemerintah, sehingga mengetahui cara menghasilkan produk terbaik,” tuturnya. (zam/mg2)