Untuk mewujudkan personil polisi yang profesional, modern dan terpercaya (Promoter) juga didukung dengan infratruktur. Diantaranya di bidang pelayanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Butuh tower belasan meter untuk mendukungnya. AKP Parliska menjadi salah satu yang mengakrabinya.

JAUH HARI, Sleman

Untuk memudahkan jaringan komunikasi antar anggota Polisi butuh saluran yang kuat. Apalagi di era modern saat ini segala sesuatunya dituntut untuk bisa serba cepat. Termasuk arus informasi dan komunikasi. Orang-orang di Bidang TIK inilah yang punya andil besar untuk kelancaran komunikasi antar satuan. Sehingga tugas pokok polri sebagai Kamdagri berjalan Lancar, aman dan sukses.

“Bidang TIK bertugas menyelenggarakan pembinaan teknologi informasi dan komunikasi, pengumpulan dan pengolahan data, serta penyajian informasi Kamtibmas dan pelayanan multimedia,” kata Kepala Urusan Bidang TIK Polda DIJ AKP Parliska Kamis (11/4).

Lebih lanjut, Parliska menjelaskan tugasnya lebih sering di lapangan. Yaitu untuk merawat jaringan komunikasi. Seperti menara telekomunikasi. “Di DIJ ini ada 11 menara telekomunikasi milik kepolisian,” ujarnya.

Mayoritas, menara telekomunikasi itu berada di Kulonprogo dan Gunungkidul. Sebab, karena letak geografis daerahnya yang berada di pegunungan sehingga menghambat komunikasi. “Kami tidak memungkiri susahnya komunikasi di Kulonprogo dan Gunungkidul, tapi saya pastikan 90 persen bisa berjalan maksimal untuk akses internet dan komunikasi lainnya,” kata pria yang pernah bertugas di Timur Tengah pada 2011 itu.

Menara-menara itu, kata dia, semuanya dibangun secara mandiri. Fungsinya untuk pemancar sinyal internet dan handy talky (HT). “Bekerja terus menerus dimana kami harus memikirkan poros ganda dan alur ganda sehingga komunikasi lancar,” katanya.

Poros ganda yang dia maksud adalah dalam menyelenggarakan sistem ada dua sistem. Yaitu sistem utama dan cadangan. “Misalnya sistem utama itu sumber listriknya dari PLN, lalu cadangannya dari aki, dan terakhir genset, itu namanya poros ganda,” jelasnya.

Sedangkan alur ganda yaitu alur yang bekerja di beda sistem. Dia mejelaskan sistem yang biasa digunakan adalah analog dan digital. Yang lazim digunakan saat bertugas adalah sistem analog yaitu melalui HT. Sebab, dengan HT bisa menjangkau hingga daerah-daerah. “Nah kalau analog yang utama, maka digital menjadi cadangan, jika analog down maka kami masih punya sistem digital. Hanya hambatannya ada dari provider,” ungkapnya.

Terkait perawatan, juga dilakukan secara mandiri. Bersama empat orang anggota yang lain. “Jadi kami harus siap 24 jam tujuh hari jika ada masalah, baik itu tengah malam atau kondisi apapun kami harus siap,” bebernya.

Memang, diakuinya, untuk membenarkan menara telekomunikasi yang rusak, dia harus rela memanjat. Tidak tanggung-tanggung tinggi menara telekomunikasi itu bisa sampai belasan meter. “Bahkan kami juga kalau pas bertugas makan saat di ketinggian,” kenangnya.

Parliska menjelaskan, untuk perawatan biasanya dilakukan setiap satu bulan sekali. Itu untuk menjaga agar di sekitar menara telokomunikasi tidak ditumbuhi rumput. Selain itu juga untuk mengecek apakah ada kerusakan terhadap menara komunikasi. “Intinya kami ini harus siap,” tegasnya. (pra/mg4)