JOGJA – Polda DIY memastikan penyelenggaraan kampanye dan pencoblosan Pemilu 2019 di wilayah DIY berjalan sesuai aturan. Kepolisian siap menindak tegas setiap pelanggaran yang dilakukan. Kapolda DIY Irjen Polisi Ahmad Dofiri memastikan pengamanan Pemilu 2019 berlangsung tegas. Sanksi hukum diberikan apabila ada pelanggaran dari semua konstituen. “Baik itu pelanggaran lalulintas maupun tindakan criminal,” ungkapnya Kamis (11/4).

Dofiri memastikan proses pemilu aman dan damai merupakan harga mati. Mantan Kapolresta Jogja iyu mewanti-wanti agar tidak ada yang memancing kekeruhan. Termasuk upaya provokasi kepada seluruh peserta kompetisi pemilu. Baik itu di level terbawah hingga tokoh politik dan tokoh masyarakat.

Berdasarkan catatan, DIY memang menduduki peringkat dua indeks kerawanan pemilu (IKP). Penghobi olah raga lari itu memastikan catatan ini bukanlah suatu momok. Justru menjadi momen untuk memetakan kerawanan. Tentunya bersama TNI, Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), partai, hingga tokoh masyarakat.

“Pasti kami tindak karena itu menjadi wewenang kami dalam menjaga kondusifitas selama pelaksanaan pemilu. Kami juga mewanti-wanti agar tidak terprovokasi baik itu dalam dunia nyata maupun dunia maya,” tegasnya.
Polda DIJ bersama Korem 072/Pamungkas telah menyiagakan pasukan. Setidaknya sebanyak 6.600 disiagakan selama proses pemilu berlangsung. Sementara untuk jumlah pemilih di Jogjakarta mencapai kisaran 2,7 juta pemilih.

Yogyakarta, lanjutnya, memiliki keistimewaan. Keberadaan pendukung dari setiap kontestan pemilu memberi warna tersendiri. Jenderal polisi bintang dua ini mengakui aspek ini juga meningkatkan kerawanan. Dofiri beracuan dari catatan Bawaslu DIY. Setidaknya ada enam laporan tindak kekerasan. Penyebabnya adalah gesekan antara massa pendukung. Bahkan potensi ini kerap muncul setiap peserta kontestan menjalani kampanye terbuka.

Menurut dia, salah satu kunci awal munculnya gesekan adalah knalpot blombongan. “Tapi jika dibandingkan pemilu 2014 sudah sangat jauh berkurang. Bisa dilihat, intensitas munculnya suara bising itu tidak setiap hari,” ujarnya. Berkurangnya intensitas tersebut atas beberapa pendekatan. Mulai dari himbauan ke tokoh hingga akar rumput. Berupa ajakan melakukan kampanye dengan santun dan sopan. Terutama menjaga norma saat berkendara di jalan raya.

Jika tidak mempan, Dofiri telah memerintahkan petugas Ditlantas melakukan tindakan tegas. Tidak hanya penilangan, kendaraan milik simpatisan juga disita. Kendaraan akan dikembalikan apabila pemilik membawa perlengkapan standar pabrik. “Ini sebenarnya sederhana tapi dampaknya luar biasa. Kalau kampanyenya sopan kan rasanya lebih ayem, disamping itu juga semua masyarakat lebih nyaman menikmati pesta demokrasi,” pesannya. (dwi/pra/mg4)