SECARA umum, pola kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dianjurkan untuk saling peduli terhadap sesama. Khususnya kepada orang miskin. Begitu pun dengan agama, baik agama samawi (langit) maupun Ardli (Bumi). Di dalam agama Islam, salah satu pengaplikasiannya zakat sedangkan dalam agama Kristen adalah persembahan.

Zakat dari segi bahasa berarti suci atau bersih. Akan tetapi pada zaman now, tidak sedikit yang belum menunaikan zakatnya. Perihal tersebut sebetulnya bukan dikarenakan ketidakmampuan mereka untuk membayar zakat, akan tetapi karena ketidaktahuan mereka untuk membayar zakat. Khususnya zakat malhemat dari penulis.

Memang secara bahasa halal diartikan sebagai sesuatu yang dibolehkan, akan tetapi kesadaran masyarakat terhadap indikasi halal biasanya hanya terhadap zatnya saja dan tidak mempertimbangkan kehalalan dari sisi lainnya. Misalnya saja perusahaan atau pedagangdari sisi proses membuat sesuatu ataupun memperoleh laba dari hasilnya. Laba yang diperoleh terkadang membuat hawa nafsu kita naik sehingga kerakusan timbul dari diri kita. Bahkan membuat kita lupa akan kewajiban untuk berzakat. Oleh sebab itu membuat kadar kehalalan dari hasil usaha kita tercemar.

Untuk menyadarkan kewajiban zakat bagi umat Islam, perlu adanya penerapan budaya halal. Halal secara hakiki. Yakni tidak hanya dari segi zat, akan tetapi dari sisi proses hingga hasil akhir atau perolehan laba. Metode terbaik untuk penerapan ini adalah perlunya penerapan spiritual dalam aktivitas duniawi yang selama ini hanya diterapkan dalam praktik ibadah. Untuk mengindikasikan spiritualitas ini, harus ada tekanan dari diri kita untuk berhati-hati terhadap halal-haramnya ataupun syubhat dari sesuatu atau aktivitas. Hal ini merupakan manifestasi takwa dari diri kita kepada Allah swt.setelah kita memahami secara betul halal-haram, maka insya Allah kita akan paham skema zakat sebagai buah outputdari budaya halal yang dapat menyejahterakan umat.

Terlebih lagi, setelah budaya halal dipahami secara agama. Maka perlu tindak lanjut yakni budaya halal dipahami atas nama tindak sosial atau saling peduli terhadap sesama. Seperti halnya orang tua memberikan uang saku kepada anaknya sebagai rasa sayang dan tanggung jawabnya. Disamping menafkahi anak sebagai ibadah, sudah jarang sekali orang tua memandang itu sebagai ibadah. Begitupun zakat, budaya halal diperlukan disini agar kewajiban zakat bukan hanya sebagai pengguguran kewajiban umat Islam. Akan tetapi sebagai rasa sayang terhadap sesama.

Tidak sedikit kesultanan-kesultanan di Nusantara dulu berjaya akibat dari dukungan dana intern umat Islam sendiri khususnya zakat sebelum kedatangan penjajah yang mencampuri urusan zakat. bahkan merusak atau mengalokasikannya pada bukan tempatnya. Ini inovasi yang perlu dikembangkan kembali di Indonesia. Budaya halal terhadap kesadaran zakat untuk kesejahteraan umat. (ila)

*Penulis merupakan pegiat ekonomi syariah serta santri Pondok Pesantren Wahid Hasyim.