JOGJA – Wilayah DIJ diprediksi akan mengalami krisis ketersediaan air pada 2030. Itu karena terus turunnya debit air per tahunnya. Salah satu faktor yang menyebabkannya karena pembangunan yang berimbas pada konservasi air.

“Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, perkiraan kami pada 2030 nanti DIJ akan mengalami krisis ketersediaan air bersih,” ujar Wakil Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) DIJ Dwi Nurwata di sela penutupan diklat Perpamsi DIJ, Sabtu (13/4).

Menurut dia, ada dua hal yang paling bertanggung jawab atas penurunan debit air. Yaitu kegiatan pembangunan yang berdampak serius terhadap konservasi. Daerah-daerah resapan air berubah menjadi gedung.

“Akibat pembangunan itu, karena sekarang itu tidak tanah biasa lagi. Tapi sudah diaspal konblok dan lainnya,” ujar Direktur PDAM Sleman itu.

Perpamsi DIJ, lanjut dia, sudah mengusulkan kepada pembuat kebijakan di semua kabupaten dan kota di DIJ untuk membuat lubang biopori hingga sumur resapan. “Sehingga ketika hujan air bisa dipanen tidak hanya langsung lari lagi ke sungai,” tuturnya.

Penyebab lainnya, adalah pohon-pohon yang jadi penyangga konservasi yang habis ditebang. Khusus di wilayah Sleman, jelas dia, dipicu juga setelah erupsi Gunung Merapi. Pohon yang dulu rimbun dan berada di akwasan konservasi air sekarang sudah mulai hilang. Dampaknya tak hanya untuk Sleman, tapi hingga Kota Jogja dan Bantul.

“Kami usulkan untuk daerah daerah tertentu, yang menjadi daerah kuning atau merah yang mendekati rawan air segera dibangun pom atau sumber air yang bisa dimamfaatkan oleh masing-masing daerah,” tambahnya.

Selain itu Perpamsi DIJ berharap, pada 2020 Pemprov DIJ segera membangunkan instalasi sumber air. Yang sekarang sudah dibangun ada dua. Yaitu sitem penyediaan air minum(SPAM) regional di Bantar Kali Progo dan Kebon Agung Sleman. Itu yang akan digunakan oleh tiga PDAM Kota Jogja, Sleman dan Bantul.

“Rencananya juga akan di bangun di Banyusoco di Gunungkidul. Yang akan digunakan oleh Gunungkidul, Bantul dan Kota,” tuturnya.

Dwi menambahkan, berdasarkan neraca yang ada air mengalami penurunan debit, ini merupakan sifat teknis secara alami. Terutama saat ini, karena musim yang sulit ditebak. “Hujannya susah ditebak. Hingga kemudian, untuk konservasi juga tidak bisa berjalan,” tuturnya.

Data Perpamsi DIJ, penurunan debit air di empat kabupaten dan satu Kota di DIJ hampir sama. “Semua rata-rata kami ambil sample pasti ada penurunan debit dari 5-10 persen,” tambahnya. (cr8/pra/mg1)