MAGELANG – Saling bantah terjadi antar dua organisasi perangkat daerah (OPD) di Kota Magelang. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) mengaku menggunakan aspal jenis hot rolled sheet (HRS) atau kelas menengah dalam pengaspalan di Jalan Sudirman. Sebelumnya, kondisi jalan itu menjadi licin ketika hujan karena kontruksi hotmix yang halus ditambah derajat gemotri tertentu.

Dijelaskan Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Kota Magelang Santosa Endra Gunawan, pengaspalan Jalan Jenderal Sudirman dilakukan pada 2016 menggunakan jenis HRS. Jenis hotmix ini menggunakan lapisan permukaan nonstruktural yang memiliki agregat gradasi senjang, filler, dan aspal keras dengan perbandingan tertentu yang dicampur dan dipadatkan dalam keadaan panas.

“Secara kualitas halus tidaknya HRS termasuk jenis menengah. Ada yang lebih halus lagi yaitu asphalt concrete (AC). Agregratnya lebih jarang dan tentunya lebih licin. Sementara di bawahnya lapis aspal pasir yang harus digoreng itu,” kata Endra Minggu (14/4).

Ditegaskan, semua jalan kota di Kota Magelang menggunakan hotmix jenis HRS. Sehingga menilai kontruksi aspal yang ada di Jalan Jenderal Sudirman tak bisa sepenuhnya dianggap sebagai biang keladi banyaknya kecelakaan yang terjadi.

“Semua jalan kota dan jalan provinsi memakai HRS di Kota Magelang. Kalau jalan nasional dan tol, kemungkinan memakai jenis AC sehingga lebih halus lagi,” ungkapnya.

Endra tidak mengelak setelah turun hujan ruas Jalan Jenderal Sudirman, terutama di kawasan persimpangan Pasar Gotong Royong, sedikit licin. Terlebih dengan geomtrik kemiringan beberapa derajat, tikungan, ditambah pengguna jalan yang tidak mengindahkan aturan lalu lintas, sehingga memicu kendaraan tergelincir.

”Jalan Sudirman sebenarnya bukan termasuk jalur cepat, sehingga diaspal HRS pun tetap berisiko licin bila turun hujan. Ditambah kondisi kendaraan mungkin ban halus mendadak mengerem, atau pengemudi memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi,” jelasnya.

DPUPR Kota Magelang, lanjut Endra, menjadi bagian dari Forum Lalu Lintas Kota Magelang mengusulkan agar ke depan dibuat pembatas jalan permanen. Dengan adanya pembatas jalan, seperti sekarang ini meski bukan permanen, paling tidak pengemudi akan berpikir dua kali bila hendak memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

“Alternatif lainnya bisa dipasangi kanstin dobel atau median jalan dengan lebar 50 cm. Lebar Jalan Jenderal Sudirman sendiri sekitar 12 meter, sehingga jika dikurangi 0,5 meter, masih tersisa 11,5 meter. Jumlah ini sudah memenuhi standar ketentuan jalan kota, selebar 5,5 meter tiap lajurnya,” katanya.

Endra juga menjelaskan, solusi lainnya dengan memasang pita kejut di area tikungan jalan itu. Dengan demikian, pengemudi akan terus waspada dan mengurangi kecepatannya ketika melintasi jalan itu.

“Saya sangat prihatin dengan peristiwa kecelakaan yang terjadi selama ini di Jalan Jenderal Sudirman. Tapi bukan hanya aspal saja, karena pribadi masing-masing pengemudi juga berpengaruh terjadinya kecelakaan,” ujarnya.

Sebelumnya, Kabid Lalu Lintas dan Perparkiran, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang Chandra Wijatmiko Ady menjelaskan, kondisi Jalan Jenderal Sudirman menjadi licin ketika hujan turun. Terlebih dengan kontruksi hotmix yang halus ditambah dengan derajat gemotri tertentu, sehingga kendaraan akan rentan tergelincir.

“Kami sudah lakukan kajian, terutama soal penambahan fasilitas lalu lintas dan menambah permukaan (aspal) agar lebih kasar,” katanya. Alternatif lain, pihaknya sudah menambah rambu-rambu lalu lintas soal batas kecepatan laju kendaraan juga pembatas jalan.

Menurutnya, kendaraan maksimal tidak melebihi 40 kilometer per jam. Solusi lainnya direncanakan dipasang marka jalan menggunakan rigid beton. Meski kurang efektif, diyakini dengan pemasangan permukaan marka jalan yang kasar, paling tidak membuat pengemudi kendaraan tidak akan melanggar batas marka. (dem/laz/mg4)