BANTUL – Lembaga swadaya masyarakat yang fokus terhadap lansia di DIJ masih minim. Indonesia Ramah Lansia punya mimpi lansia harus bahagia.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul

Dicemooh hingga dianggap kurang kerjaan. Itu di antara pengalaman pahit yang dialami Dwi Endah Kurniasih. Saat perempuan yang tinggal di Dusun Maesan, Tamanan, Banguntapan, Bantul, itu berupaya memperjuangkan hak-hak lanjut usia (lansia).

”Saat awal-awal memang banyak yang mempertanyakan,” tutur Endah menceritakan pengalamannya yang terjadi beberapa tahun lalu itu saat dihubungi, Minggu(14/4).

Ya, Endah sejak lama memutuskan concern perjuangannya untuk lansia. Terutama, nasib sosial lansia. Dengan membentuk wadah bernama Indonesia Ramah Lansia.

Menurut Endah, forum atau lembaga swadaya masyarakat di DIJ yang concern terhadap nasib lansia saat itu sangat minim. Bahkan, bisa disebut belum ada. Padahal, jumlah lansia di DIJ cukup tinggi. Sekitar 13,4 persen.

”Lansia adalah kelompok rentan. Penghasilannya minim, kondisi kesehatannya juga rentan. Dan, orang-orang di sekitarnya belum sepenuhnya mendukung mereka,” ucap Endah menyebut berbagai pertimbangan yang melecut semangatnya.

Bersama dengan sejumlah aktivis peduli lansia lainnya, Endah yang saat itu masih berstatus mahasiswi mulai mengejawantahkan gagasannya. Dengan memilih Pedukuhan Karet. Pedukuhan yang terletak di Desa/Kecamatan Pleret, Bantul, ini pada 2013 dijadikan sebagai kawasan ramah lansia.

Melalui idenya ini, Endah leluasa memberikan berbagai program edukasi dan kesehatan bagi lansia di Pedukuhan Karet.
”Setiap Minggu pagi kami rutin senam bareng simbah dan Sunday morning,” ujarnya.

Perlahan tapi pasti, Endah gencar melakukan promosi. Bahkan, Endah bersama aktivis lainnya yang tergabung dalam Indonesia Ramah Lansia juga serius mendorong pemangku kebijakan publik. Agar mereka mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap kaum lansia.

”Sekarang sudah banyak yang sadar bahwa edukasi persoalan lansia memang penting,” katanya sumringah.
Bahkan, gerakan yang digagas Endah ini telah berkembang di Kabupaten Bantul dan Sleman. Di Bantul, contohnya, ada 20 titik kawasan ramah lansia. Sedangkan di Sleman tiga titik.

”Total ada 600 lansia yang bergabung,” sebutnya.
Selain kesehatan, Endah juga serius memberikan edukasi kepada keluarga yang memiliki lansia. Tujuannya, agar mereka bisa memperlakukan lansia dengan baik. Ujungnya agar lansia bisa mendapatkan hak yang layak di mata keluarga dan sosial.

Endah mengingatkan, bertambahnya jumlah lansia tak bisa dibendung. Berbeda dengan boom bayi yang bisa dicegah dengan program KB (keluarga berencana).
”Dari itu, yang perlu dipersiapkan adalah generasi muda peduli lansia. Jangan sampai usia tua tidak bahagia,” tegasnya.

Gara-gara concern terhadap lansia, kata Endah, dia pernah mengikuti short course di Korea Selatan dan Jepang. Untuk mempelajari kawasan ramah lansia yang digagas kedua negara di Asia Timur itu.
”Saya curi ilmunya. Saya terapkan di sini. Diterima positif oleh masyarakat,” katanya.

Di balik keputusannya memilih berjuang untuk lansia, perempuan yang kini didapuk sebagai direktur Indonesia Ramah Lansia ini juga punya alasan pribadi.
”Saya perempuan. Memiliki orang tua lansia. Suatu saat saya juga akan menjadi lansia. Jadi sudah semestinya kita peduli lansia,” ungkapnya. (zam/mg2)