JOGJA – Citizen Science adalah sebuah kegiatan yang melibatkan masyarakat untuk membantu ilmuwan dalam mengumpulkan data. Bahkan melakukan analisis awal tentang adanya fenomena alam. Citizen Science ini telah berkembang pesat di Amerika Serikat.

Itu dikatakan Yudhiakto Pramudya PhD, Kepala Pusat Studi Astronomi (PSA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Ruang Observatorium, kampus 4 UAD, Ringroad Selatan, Tamanan Bantul, Jumat (12/4). Kegiatan dalam rangkaian perayaan Global Astronomy Month (GAM) 2019 ini juga diisi telekonferensi dengan penggiat Citizen Science dari Chicago Amerika Serikat, Caroline Williams dan Project Coordinator For Landslide NASA Caroline Juang. Mereka berbagi pengetahuan pada mahasiswa S1 dan S2 Pendidikan Fisika UAD.

“Kegiatan GAM serentak diselenggarakan oleh institusi di seluruh penjuru dunia untuk mengapreasiasi sains. Khususnya bidang Astronomi. Khusus di UAD, dibantu oleh kelompok studi Andromeda Pendidikan Fisika dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Magister Pendidikan Fisika,” jelasnya.

Caroline Juang mempresentasikan teknologi satelit NASA yang digunakan untuk pemantauan tanah longsor. Citra satelit yang diperoleh memerlukan bantuan masyarakat untuk memantau lereng bukit yang mempunyai potensi longsor. “Hal ini sangat dibutuhkan bagi masyarakat Indonesia yang sering mengalami bencana hidrometeorologis yang diantaranya banjir dan tanah longsor,” tuturnya.

Caroline Williams bercerita tentang peran masyarakat dalam pengumpulan data melalui website Zooniverse. Terdapat banyak project yang bisa diikuti oleh masyarakat di Zooniverse. “Tidak hanya berkaitan dengan astronomi dan fisika, namun juga banyak hal berkaitan dengan lingkungan hidup,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Yudhi mengharapkan mahasiwa Pendidikan Fisika dapat mempunyai wawasan lebih luas dalam implementasi pengetahuan yang telah diperoleh di bangku kuliah. Sekaligus juga melatih kemampuan untuk berkolaborasi dan menggunakan teknologi pada Revolusi Industri 4.0.

Kegiatan ini, lanjut dia, juga berpotensi untuk dilaksanakan secara berkelanjutan. Karena mampu menjembatani ilmuwan dengan mahasiswa dan masyarakat meskipun terpisah jarak dan waktu yang jauh. “Sehingga gairah masyarakat untuk mengapreasiasi sains semakin tinggi yang pada akhirnya dapat membawa Indonesia menjadi negara maju,” paparnya. (*/a11/pra/mg1)