PURWOREJO – Kepemilikan wilayah yang lengkap mulai dari dataran, pegunungan, perbukitan, dan pantai amat memungkinkan terjadinya berbagai jenis ancaman serta memiliki potensi bencana yang tinggi. Perhitungan BNPB tentang Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI), Kabupaten Purworejo menempati urutan ke-18 dari 496 kabupaten/kota se-Indonesia.

“Kami pun berada di urutan ke-2 dari 35 kabupaten/kota se Provinsi Jawa Tengah, dengan skor 215 dan kelas risiko tinggi,” kata Bupati Purworejo Agus Bastian di hadapan relawan dalam temu relawan dengan bupati di Pendapa Rumah Dinas Bupati, Senin(15/4).

Menurut bupati, kejadian bencana selalu saja memberikan dampak kejutan dan menimbulkan banyak kerugian, baik harta benda maupun jiwa. Walaupun sebenarnya sudah banyak kajian ilmu pengetahuan, sebagian besar jenis bencana alam yang terjadi seperti tanah longsor, kekeringan, anomali cuaca, bahkan tsunami biasanya masih dapat diketahui sebelumnya.

“Salah satu penyebab jatuhnya korban dalam kejadian bencana adalah kurangnya antisipasi dan kesiapan warga,” tambah bupati. Ini masih diperparah dengan lambannya penanganan bencana sebagai akibat keterbatasan personel maupun peralatan. Hal tersebut mengindikasikan kewaspadaan dan kesiapan kita, baik aparatur pemerintah maupun masyarakat dalam menghadapi bencana, perlu terus ditingkatkan.

Secara khusus bupati melihat keberadaan relawan, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, antara lain, menyangkut manajemen relawan penanggulangan bencana, adanya inkonsistensi dengan siklus manajemen bencana, serta kurangnya pelatihan dan perencanaan. Selain itu juga munculnya egosentris, sehingga tidak ada koordinasi dengan ICS (Incindent Commando System).

“Di lapangan kerap ada relawan yang tidak terorganisasi dan tidak profesional. Selain itu kurangnya pemahaman terhadap peran relawan dan kerelawanan, sehingga menimbulkan bencana di dalam bencana,” tambah bupati.

Dia pun berharap relawan memiliki semangat untuk mengabdi pada kemanusiaan, dengan berupaya meningkatkan kemampuan dan soliditas dalam penanganan bencana.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo Sutrisno mengatakan, relawan yang ada di Purworejo bukanlah bentukan dari BPBD, namun tumbuh dari mereka sendiri. “Relawan di Purworejo sudah berjalan dengan baik. Misalnya membuat dapur umum, semua relawan sudah bisa berinisiatif,” kata Sutrisno.

Dalam kegiatan temu relawan sendiri, Sutrisno mengatakan relawan yang terlibat mencapai 2.300 orang. (udi/laz)