MAGELANG – Program-program pengentasan kemiskinan, seperti bedah rumah, kerap terkendala dengan panjangnya birokrasi. Rumah sudah ambruk, tapi pemerintah belum dapat membangunnya. Seperti yang terjadi di Kelurahan Rejowinangun Utara, Magelang Tengah, Kota Magelang.

FRIETQI SURYAWAN, Magelang

Tak ada yang mengetahui persis kapan atap rumah yang terletak di RT 01 RW 19 Kelurahan Rejowinangun Utara, Magelang Tengah, Kota Magelang, itu ambruk. Banyak yang menduga sekitar pukul 07.30 Jumat (12/4).

Pagi itu, rumah yang sebagian dindingnya berupa tripleks tersebut kosong. Arif sudah pergi keluar rumah. Menuju tempat kerjanya. Istri dan putrinya pergi berbelanja.

”Mungkin (ambruknya) karena usia. Karena tidak ada hujan maupun angin kencang,” tutur Arif semringah tidak ada anggota keluarganya yang menjadi korban.

Rumah Arif termasuk beberapa unit hunian yang diusulkan ke Pemkot Magelang pada pertengahan 2018. Sebagai peserta program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Yang diampu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Namun, rumah itu justru ambruk sebelum diperbaiki.

”Dari yang kami usulkan, baru dua rumah yang diperbaiki,” jelas Suwandi, Anggota Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Kelurahan Rejowinangun Utara.

Menurut Suwandi, masih ada lima rumah di RW 19 yang kondisinya tidak layak huni. Sewaktu-waktu bisa ambruk jika ada angin kencang maupun hujan deras. Kendati begitu, Suwandi menyadari bahwa realisasi program bedah rumah tidak gampang. Ada serangkaian prosedur yang harus dilalui. Apalagi, jika status tanahnya bukan hak milik.

”Semoga bisa ada program lain yang bisa langsung tepat sasaran,” harapnya.
Mengutip pidato sambutan Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito saat upacara Peringatan Hari Jadi Ke-1.113 Kota Magelang, ada seabrek program pengentasan kemiskinan. Di antaranya melalui program rumah tidak layak huni (RTLH) yang diampu Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kota Magelang dan BSBS. Namun, sekali lagi realisasi program-program tersebut tidak mudah.

Untuk penanganan rumah Arif Hidayat, contohnya. Pemerintah mengandalkan gotong royong.
”Kami langsung melaksanakan kerja bakti. Dengan dibantu PMI dan Tagana Kelurahan. Agar tidak kehujanan dan kedinginan,” tuturnya.

Sigit Widyonindito menyempatkan diri untuk mengunjungi rumah warganya yang ambruk kemarin. Dia disambut Arif, istri, anaknya, serta Camat Magelang Tengah Tugono, Praditya Deddy H dan jajarannya. Termasuk Ketua PMI Kota Magelang Sumartono.

Sigit mengaku mendengar musibah tersebut ketika berada di luar kota.
”Saya dilapori pak camat dan pak lurah, ada warga yang kena musibah. Saya bersyukur tidak ada korban,” ujar Sigit.

Dalam kunjungannya, Sigit ingin memastikan rumah Arif sudah ditangani sementara oleh lingkungan sekitarnya.
Sigit juga mendorong masyarakat untuk selalu mengedepankan gotong royong membantu sesama yang membutuhkan.

“Tradisi kita kalau ada warga yang terkena musibah, camat, lurah langsung bentuk panitia sampai tingkat rt/rw. Nah, kita bantu, kalau bisa ditangani lingkungan cukup alhamdulillah, kalau ngga cukup sak kelurahan hingga Kota,” ungkapnya.

Meski rumahnya belum tersentuh program BSPS, Arif mengaku sangat bersyukur. Lantaran tidak sedikit yang mengulurkan tangan memberikan bantuan.

”Saya juga berterima kasih dengan aparat kelurahan, tetangga, yang sudah membantu kerja bakti memperbaiki atap rumah sementara pakai terpal. Setidaknya masih bisa menempati rumah ini tanpa harus mengungsi,” tandasnya. (zam/mg2)