Oleh Dr. Hadi Suyono, S.Psi., M.Si

NGOOOOK. Suara amat keras yang keluar dari knalpot memekakkan telinga. Mengharu biru di jalanan. Setiap kali prosesi  demokrasi lima tahunan peristiwainiselalu mewarnai dalam setiap ajang kampanye.

Mencemaskan memang. Ketika berpapasan dengan rombongan simpatisan konvoi harus minggir. Beresiko kalau tetap melanjutkan perjalanan. Salah-salah bisa kena amukan massa.

Pernah satu kali kejadian. Seorang teman bercerita. Gara-gara menyenggol bendera partai yang dibawa simpatisan saat konvoi jadi masalah. Dirinya ditimpuki oleh simpatisan. Babak belur. Memar di sekujur tubuh. Dia masih beruntung. Ada aparat keamanan yang menolongnya. Simpatisan yang brutal meninggalkannya. Setelah dihalau oleh pak polisi.

Cerita belum usai. Terpapar berita kekerasan demi kekerasan, saat ada kampanye akbar. Bentrok dengan warga. Menganiaya pak tentara. Menyerang markas organisasi yang dianggap berbeda pandangan politik, berbeda pilihan calon legislatif, dan berbeda dukungan capres dan cawapres.

Demokrasi kita memang belum beranjak. Selalu saja ada peristiwa kekerasan yang menyertai pada setiap ajang pesta pemilihan legislatif maupun capres-cawapres. Belum ada kesadaran. Sejatinya kampanye merupakan perwujudan dari bentuk persuasi menggaet pemilih agar jatuh hati kepada kandidat.

Seharusnya simpatisan partai politik tergugah hatinya melakukan aksi simpatik agar pemilih terpesona. Agar pemilih mengambang tertarik dan menjatuhkan pilihan pada partai atau kandidat yang mereka dukung.

Kalau mereka bisa paham. Aksi kampanye menunjukkan perilaku negatif. Maka pemilih akan memiliki sikap negatif pula.Dan yang dirugikan sebenarnya partai atau kandidat. Pemilih akan meninggalkan partai atau kandidat yang diusungnya. Sebagai dampak dari aksi yang tidak simpatik dari pendukungnya.

Sekedar sebagai perbandingan. Dua kali saya memiliki kesempatan menyaksikan prosesi pemilihan umum di belahan Thailand Selatan. Adem. Tidak sehingar bingar di negeri ini. Peristiwa politik di sana. Sekedar memasang baliho calon legislatif. Terpasang rapi. Selama saya berada di  Thailand Selatan. Tak pernah mendapati sepeda motor meraung-raung saat kampanye.

Mengapa Indonesia beda ? Setiap peristiwa politik harus diwarnai oleh blombongan knalpot. Barangkali sulit untuk melacak siapa yang memiliki gagasan awal, kalau kampanye identik dengan blombongan knalpot. Blombongan knalpot telah menjadi bagian dari sejarah setiap kali ada peristiwa kampanye.

Selain blombongan knalpot. Setiap kali ada kampanye. Selalu ada saja kekerasan fisik. Peristiwa bentrok antar pendukung. Merusak fasilitas warga. Dan masih banyak bentuk kekerasan lain yang terjadi saat diselenggarakan ajang kampanye.

Melihat realitas politik yang ada. Yang tampak pada pelaksanaan kampanye. Boleh dibilang. Belum ada kedewasaan  dalam praktek politik. Pendidikan politik belum menyentuh  aspek kematangan berdemokrasi.

Itu sesungguhnya pertanda telah gagalnya politisi mendidik konstituennya. Belum ada kesadaran moral membuat konstituen memiliki kecerdasan dalam berpolitik. Para politisi masih sebatas fokus mendulang suara. Target politiknya hanya sekedar  naik tahta menjadi anggota legislatif.

Akibat dari cara berpolitik yang pragmatisme dengan mengabaikan nilai etik untuk membuat pendukungnya melek politik. Akhirnya justru terjebak pada memanjakan para pendukung.

Tak berani melarang pendukung apabila menggunakan knalpot blombongan saat berkampanye. Lebih memprihatinkan lagi cara memanjakan dengan memberi berbagai fasilitas. Berbagai media telah mengabarkan adanya amplop, nasi bungkus, dan bagi-bagi sembako yang menggerakan mereka untuk ikut dalam partisipasi politik. Terutama kampanye.

Kalau kondisi  politik seperti itu dibiarkan terus di akar rumput. Maka sebenarnya kita belum beranjak. Kualitas demokrasi kita masih berjalan di tempat. Untuk menggerakan agar dinamika demokrasi lebih cerdas. Tentu menunggu niat baik dari politisi menjadi seorang negarawan. Sesungguhnya ada tanggung jawab moral dari politisi mendidik rakyat agar berpolitik secara santun dan bermartabat.  Semoga…!