PERSEBARAN informasi di internet sangat cepat, sehingga apa saja yang diinginkan manusia nyaris bisa ditemukan di sana. Hal ini tentu tidak terjadi begitu saja, melainkan terjadi karena suatu sebab. Salah satu sebabnya ialah kemudahan memproduksi informasi oleh siapa saja pengguna gawai (gadget). Gawai pun yang dulu bisa dikatakan sebagai barang mewah, kini justru berharga murah. Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin pun nyaris tak bisa dilihat di dunia maya.

Kemudahan tersebut nyatanya tidak lantas bebas dampak. Ada beberapa dampak yang disebabkan olehnya, salah satunya ialah maraknya persebaran berita palsu (hoaks). Hoaks sangat mudah disebarkan melalui dunia maya, hanya dengan sekali klik saja berita bohong bisa melesat ke seantero jagad. Hal tersebut tentu sangat mengkhawatirkan, pasalnya satu hoaks saja dapat mengikis integritas Bangsa.

Bangsa dengan segala keberagamannya yang disatukan dengan susah payah ini tentu tidak boleh terpecah hanya karena hoaks semata. Seluruh elemen Bangsa perlu menyadari perlunya menangkal persebaran hoaks di dunia maya, khususnya di media sosial yang memang sangat meresahkan. Sesama putra Bangsa bisa saling berseteru hanya karena satu berita palsu beredar, mereka meyakini kebenaran pribadinya masing-masing yang bersumber dari informasi yang mereka baca.

Ironisnya, di tengah ancaman disintegrasi tersebut, justru ada sebagian oknum yang mengambil keuntungan darinya. Sebut saja oknum buzzer politik, yang saat ini tengah marak bereadar di jagad maya. Mereka mengambil keuntungan dari segala fenomena yang terjadi, kemudian menggiring opini warganet untuk keuntungan pribadinya. Hal tersebut sering diibaratkan sebagai memancing di air yang keruh. Oknum tersebut hanya berpikir jangka pendek tanpa menghiraukan efek jangka panjangnya yang sangat mengancam persatuan.

Pemerintah, melalui lembaga terkait tentu sudah menyiapkan seperangkat regulasi untuk mencegah segala kemungkinan tersebut. Tapi regulasi dari pemerintah saja tentu tidak cukup, tanpa adanya partsisipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat untuk mengawal arus informasi di dunia maya sangatlah dibutuhkan, di era keterbukaan informasi ini masyarakat sangat potensial untuk menjadi sumber informasi sebagai bahan pengambilan kebijakan. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi informasi yang tinggi sangat diharapkan tampil di panggung dunia maya untuk menepis hoaks yang beredar.

Sebelum itu semua satu hal yang perlu dilakukan adalah dengan tegas menolak peredaran hoaks. Memeriksa validitas informasi sebelum memercayai dan turut menyebarkan ialah langkah pasti yang bisa dilakukan untuk meminimalisir persebaran hoaks di duaia maya. Tidak langsung memercayai berita yang singgah ke gawai ialah suatu sikap berprasangka yang nantinya akan berefek positif.

Prinsip ini bisa dimaknai sebagai upaya untuk mendahulukan pencegahan terhadap pada satu hal yang buruk (hoaks), ketimbang tergesa-gesa melakukan kebaikan. Sikap tergesa-gesa serta ingin menjadi yang terdepan dalam membagikan informasi inilah cikal bakal tersebarnya hoaks di pelbagai kanal. Niat yang baik tidak selalu akan menghasilkan sesuatu yang baik apabila tidak dibarengi dengan cara yang baik pula. Adapun cara yang baik dalam hal ini adalah memeriksa kembali secara teliti mengenai keabsahan berita sebelum memercayai atau bahkan menyebarkannya.

Alih-alih membagikan informasi yang bermanfaat, sikap tergesa-gesa dalam membagikan informasi tersebut justru akan memicu polemik. Sudah tidak terhitung perseteruan terjadi akibat sikap tergesa-gesa tersebut. Fenomena tersebut menjadi preseden buruk bagi ekosistem informasi di Indonesia. Pasalnya orang akan dengan mudah membagikan informasi yang menurut mereka benar, baru kemudian jika terbukti keliru mereka akan mengklarifikasinya tanpa merasa bersalah.

Memang mudah saja melakukan klarifikasi, akan tetapi dampak yang ditimbulkan oleh persebaran hoaks sudah telanjur merusak persatuan. Untuk memotong mata rantai hoaks, yang kini oleh sebagian oknum dijadikan komoditas maka seluruh elemen Bangsa harus bersatu. Hoaks tidak hanya perlu diabaikan, akan tetapi dilawan. Perlawanan tersebut dapat dilakukan dengan cara membombardir dunia maya dengan konten positif sehingga tidak ada ruang untuk peredaran hoaks. Sikap penolakan terhadap hoaks yang seperti ini tidak hanya akan meminimalisir persebaran hoaks, akan tetapi akan menumbuhkan inspirasi dan mempromosikan perdamaian. (ila)

*Penulis merupakan dosen Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta