SLEMAN – Jogjakarta kaya warisan budaya. Komunitas Malam Museum berusaha menjaga eksistensinya. Salah satunya lewat kegiatan Walking Tour. Jumat (19/4) giliran Candi Sambisari yang menjadi objek jelajah komunitas Malam Museum bersama puluhan mahasiswa.

YUWANTORO WINDUAJIE, Sleman

Siang kemarin cuaca cukup mendukung. Terik matahari tak begitu menyengat. Angin bertiup sepoi-sepoi. Suasananya pas untuk jalan-jalan. Kebetulan juga tanggal merah. Kawasan Candi Sari di Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman mendadak ramai pengunjung. Jumlahnya puluhan. Mereka telah berkumpul di depan pintu masuk candi sejak pukul 08.00.

Seorang pemuda berkaus hitam dengan celaka pendek menjadi pemandu mereka. Tak kurang satu jam mereka mengelilingi candi peninggalan kerajaan Hindu itu. Sang pemandu, Erwin Djunaedi, tampak bersemangat. Sesekali dia dikerumuni para mahasiswa. Saat pendiri Komunitas Malam Museum itu menjelaskan tentang objek yang mereka kunjungi.

Itulah Walking Tour. Acara yang dikemas Komunitas Malam Museum. Untuk nguri-uri warisan budaya leluhur yang adiluhung. Sekaligus sebagai sarana edukasi pelestarian cagar budaya.

Pemilihan Candi Sambisari sebagai objek kunjungan bukan tanpa alasan. Karena sehari sebelumnya ada peringatan Hari Warisan Dunia.

Walking Tour sengaja dikemas secara menyenangkan. Supaya peserta tidak bosan dan tetap antusias mempelajari sejarah budaya. “Ada banyak sekali cerita yang bisa digali dari satu situs bersejarah,” ungkap Erwin.

Ruang informasi Candi Sambisari menjadi tempat pertama yang mereka sambangi. Ruang itu mirip seperti museum mini. Lengkap dengan aneka informasi. Mengenai candi yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung di zaman Kerajaan Mataram Kuno abad IX. Informasi tentang penemu candi yang terkubur ratusan tahun pun ada. Lengkap dengan proses penemuan dan ekskavasinya. Candi Sambisari ditemukan pertama kali pada masa kemerdekaan Indonesia.

Bagi Erwin, Candi Sambisari tergolong istimewa. Karena dilengkapi informasi itu. Sementara masih banyak situs candi yang tak dilengkapi ruang informasi tersendiri. “Seperti Candi Ijo, Candi Sari, dan Candi Kalasan. Belum ada ruang informasinya,” ungkap Erwin.

Setelah beberapa menit di ruang informasi mereka lantas masuk ke area candi. Kompleks ini terdiri atas satu candi utama dan tiga candi perwara. Bagian luar dinding bangunan utama terdapat relung dengan patung Durga Mahisasuramardini di sisi utara. Di sisi timur ada patung Ganesha. Serta patung Agastya di sisi selatan.

Sedangkan di dalam candi utama terdapat artefak lingga dan yoni. Secara detail Erwin memaparkan sejarah candi, relief, arca, hingga mitos-mitos seputar Candi Sambisari.

Erwin juga menjelaskan tentang etika berkunjung di situs candi. Seperti saat menyentuh batuan candi. Tidak boleh terlalu sering. Karena keringat tangan mengandung zat asam yang berbahaya bagi candi. Juga imbauan tidak membawa makanan dan minuman yang dapat mengundang serangga, seperti semut. Semut bisa bersarang di batuan candi.“Alas kaki pengunjung pun jangan yang tajam. Karena bisa menyebabkan lantai candi aus,” tuturnya. Erwin  mencontohkan anak tangga Candi Borobudur yang aus dan membentuk cekungan. “Meludah juga dilarang. Karena candi merupakan wilayah suci,” tambahnya.

Hal sepele yang juga dilarang adalah membuang bekas permen karet. Menurut Erwin, sejauh ini belum diketahui cara memulihkan batuan candi yang terkena permen karet.

Nitya, 24, mengaku sangat terkesan menjadi peserta Walking Tour. Dia tak menyangka bakal mendapat banyak pengetahuan sejarah hanya dengan mengunjungi Candi Sambisari. “Ternyata banyak informasi dari situs yang tergolong kecil ini,” ujarnya. (yog/by)